JAMBI — Nasib Halloween: The Game di kawasan Oseania akhirnya jelas. IllFonic, pengembang di balik game horor asimetris ini, mengonfirmasi bahwa penjualan digital tetap berjalan di Selandia Baru. Hal ini memisahkan nasib game tersebut dari Australia yang masih terkena larangan penuh, baik fisik maupun digital.
Kekacauan ini bermula dari keputusan Australian Classification Board (ACB) yang menolak memberikan rating pada awal Agustus 2026. Penyebabnya, penggambaran zat terlarang dalam mekanisme gameplay yang terkait dengan sisi sipil dalam game. Sempat beredar kabar bahwa keputusan ini otomatis menggagalkan rilis di Selandia Baru, namun kenyataannya berbeda.
IllFonic menjelaskan bahwa kebingungan terjadi karena perbedaan sistem rating antara fisik dan digital. Saat bermitra dengan distributor fisik untuk Australia dan Selandia Baru, mereka mendapat informasi bahwa rating ACB berlaku untuk produk fisik di kedua wilayah. Namun, untuk penjualan digital, Selandia Baru menggunakan sistem IARC yang terpisah.
Office of Film and Literature Classification (OFLC) Selandia Baru mengonfirmasi bahwa game ini tidak pernah diajukan untuk klasifikasi di negara mereka. Tidak ada keputusan lokal yang melarang peredarannya. Bahkan, rilis digital di Selandia Baru secara hukum tidak wajib melewati proses klasifikasi, meski beberapa platform memilih untuk tetap mengajukannya.
Pemain Selandia Baru tetap bisa membeli Halloween: The Game secara digital pada 8 September 2026. Versi ini tersedia untuk PS5, Xbox Series X/S, dan PC. Sayangnya, edisi fisik tidak akan hadir bersamaan. Rencana awal menyebutkan edisi fisik menyusul pada 6 Oktober 2026 di wilayah lain, tapi Selandia Baru tidak termasuk dalam daftar distribusi.
Sementara itu, Australia tetap menjadi pasar yang tertutup total. IllFonic harus mengubah konten atau mengajukan ulang klasifikasi jika ingin game ini tembus di sana. Belum ada pernyataan resmi mengenai langkah selanjutnya untuk pasar Australia.
IllFonic mengklaim Halloween: The Game berhasil mereplikasi atmosfer film asli tahun 1978. Beberapa peta didesain berdasarkan lokasi Haddonfield yang otentik, dengan soundtrack yang terinspirasi dari skor ikonik John Carpenter. Mode multiplayer asimetris yang menjadi ciri khas studio ini tetap dipertahankan.
Yang menarik, game ini juga menyertakan mode single-player story yang bisa dimainkan offline dengan bot. Ini menjadi nilai tambah bagi pemain yang tidak selalu ingin bermain kompetitif. Bagi komunitas Indonesia, kabar ini setidaknya memberi kepastian bahwa game horor bertema ikonik ini tetap berjalan sesuai jadwal di sebagian besar wilayah global.