JAMBI — Riset IDX Channel mencatat setidaknya ada sepuluh saham dengan dividend yield dua digit yang bisa menjadi incaran investor. Dari daftar tersebut, emiten tambang batu bara BSSR menonjol bukan hanya karena yield-nya yang jumbo, tetapi juga rekam jejak pembayaran dividen yang konsisten selama 12 tahun berturut-turut.
Rata-rata dividend yield BSSR dalam tiga tahun terakhir juga tercatat solid di level 17,45%. Angka ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam membagikan keuntungan kepada pemegang saham, bukan sekadar fenomena satu tahun.
Selain BSSR, beberapa nama besar seperti emiten pelat merah dan raksasa barang konsumsi juga masuk dalam daftar jumbo yield ini. Berikut rincian lima besar dividend yield berdasarkan data yang dihimpun:
Posisi kedua ditempati oleh Astra Graphia (ASGR) dengan dividend yield 13,54%. Namun, investor perlu mencermati rata-rata imbal hasil tiga tahunan ASGR yang hanya berada di level 6,58%. Disparitas yang cukup lebar ini mengindikasikan bahwa pembagian dividen ASGR pada tahun buku terakhir jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga keberlanjutannya perlu diverifikasi lebih lanjut.
Berbeda dengan ASGR, emiten perbankan seperti BMRI dan BBRI menawarkan yield yang lebih stabil. Dengan rasio pembayaran dividen yang cenderung konservatif dan kinerja laba yang terjaga, kedua bank ini kerap menjadi pilihan utama investor institusi maupun ritel untuk portofolio jangka panjang.
Yang membuat daftar ini makin relevan adalah kombinasi antara yield tinggi dan valuasi yang terbilang murah. Di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi IHSG, saham-saham dengan fundamental kuat dan arus kas stabil justru memberikan ruang aman bagi investor.
UNVR yang sempat tertekan beberapa tahun terakhir kini menawarkan yield 11,20%. Level ini tergolong langka untuk emiten berkapitalisasi pasar besar dengan likuiditas tinggi. Bagi investor yang mencari defensif, saham consumer goods dengan valuasi murah bisa menjadi alternatif menarik.
Meski demikian, yield tinggi tidak selalu berarti investasi aman. Investor tetap perlu memeriksa rasio pembayaran dividen (payout ratio), tingkat utang, dan prospek bisnis ke depan sebelum mengambil keputusan. Investasi mengandung risiko.