TANJUNG JABUNG TIMUR — Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Tanjung Jabung Timur meluncurkan platform digital sederhana untuk memfasilitasi perdagangan hewan ternak. Melalui grup WhatsApp, peternak lokal tidak lagi harus menempuh jarak jauh ke pasar fisik yang selama ini membuat mereka bergantung pada tengkulak.
Kehadiran inovasi ini menjadi jawaban atas keluhan klasik mengenai lemahnya posisi tawar peternak saat menghadapi perantara. Dengan sistem daring, harga jual diharapkan menjadi lebih kompetitif dan menguntungkan bagi produsen maupun pembeli di wilayah tersebut.
Sekretaris Disbunak Tanjung Jabung Timur, Sapura, menjelaskan bahwa grup ini berfungsi sebagai jembatan komunikasi langsung. Peternak cukup mengunggah foto atau video hewan kurban mereka yang dilengkapi dengan spesifikasi teknis lengkap untuk dilihat calon pembeli.
Data yang wajib dicantumkan meliputi estimasi berat badan, usia hewan, hingga harga yang ditawarkan secara transparan. Hal ini memudahkan pembeli untuk memantau kualitas ternak tanpa perlu mendatangi lokasi kandang yang tersebar di berbagai kecamatan.
"Dengan adanya grup ini, posisi tawar peternak menjadi lebih baik karena mereka bisa berinteraksi langsung dengan calon pembeli tanpa perantara yang merugikan," ujar Sapura saat dikonfirmasi media baru-baru ini.
Meski transaksi berlangsung secara virtual, pemerintah daerah tetap memberikan pengawasan ketat terhadap kualitas ternak. Disbunak mengerahkan mantri hewan di seluruh kecamatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala pada hewan yang dipasarkan.
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap sapi atau kambing memenuhi syarat syariat kurban dan layak konsumsi. Pembeli mendapatkan kepastian melalui jaminan kesehatan resmi dari otoritas veteriner setempat sebelum melakukan kesepakatan jual beli.
Mengenai proses pembayaran, Sapura menegaskan bahwa pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator penyedia wadah komunikasi. Tidak ada potongan harga atau biaya administrasi yang dibebankan kepada peternak maupun pembeli dalam setiap transaksi yang terjadi.
"Tugas kami murni memfasilitasi tanpa ada biaya admin atau potongan apa pun. Transaksi selanjutnya silakan dilakukan langsung antara peternak dan pembeli. Kami tidak mengintervensi proses jual-beli tersebut," tambah Sapura.
Saat ini, keanggotaan grup masih didominasi oleh jajaran kepala desa dan ketua kelompok peternak di wilayah Tanjung Jabung Timur. Namun, Disbunak berkomitmen untuk terus menambah kepesertaan hingga menjangkau seluruh peternak individu secara luas.
Digitalisasi pasar ternak ini diharapkan mampu mengubah pola bisnis peternak agar lebih profesional. Penguatan akses pasar secara mandiri menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan peternak lokal di tengah tantangan jarak geografis menuju pusat pasar.
Pemerintah daerah berharap inovasi sederhana namun tepat guna ini dapat memberikan ketenangan bagi masyarakat dalam mendapatkan hewan kurban yang sehat, sekaligus memberikan keuntungan maksimal bagi para peternak di Tanjung Jabung Timur.