Bank Indonesia Perkuat Ekonomi UMKM Desa Penyangga Wisata Muarajambi

Penulis: Ramli Ahmad  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 10:57:01 WIB
Bank Indonesia dan akademisi kaji pengembangan UMKM di sekitar Kawasan Cagar Budaya Muarajambi.

MUARO JAMBI — Bank Indonesia bersama kalangan akademisi melakukan kajian mendalam mengenai strategi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Sektor pariwisata dan UMKM dipacu untuk membentuk ekosistem ekonomi lokal yang saling menguatkan dan berkelanjutan.

Kajian ini menyoroti posisi pelaku usaha lokal yang selama ini cenderung hanya menjadi pelengkap aktivitas pariwisata. Minimnya integrasi antara pengelola destinasi dengan sistem pemasaran modern membuat nilai tambah ekonomi yang dirasakan warga desa masih rendah. Pelaku usaha di desa penyangga seringkali terjebak pada skala mikro tanpa ada kenaikan kelas yang signifikan.

Mengapa UMKM Lokal Sulit Bersaing di Kawasan Wisata?

Persoalan klasik seperti keterbatasan akses permodalan dan rendahnya literasi digital masih menjadi hambatan utama bagi warga di sekitar KCBN Muarajambi. Standar produk yang belum konsisten membuat penetrasi pasar ke skala yang lebih luas sulit tercapai. Tanpa adanya peningkatan kapasitas yang sistematis, program pengembangan dikhawatirkan hanya bersifat seremonial.

Intervensi nyata diperlukan untuk mengubah pola pikir dan kemampuan teknis para pelaku UMKM. Fokus utama diarahkan pada penguatan rantai nilai agar produk lokal memiliki daya saing tinggi di mata wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini mencakup perbaikan kemasan, kepastian stok, hingga pemanfaatan platform digital untuk promosi.

Konektivitas dan Infrastruktur Logistik Jadi Kunci

Pengembangan wisata budaya di Jambi tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan infrastruktur ekonomi yang memadai. Akses transportasi yang mudah dan jaringan logistik yang lancar menjadi faktor krusial untuk menghubungkan produk desa dengan ekosistem ekonomi kreatif regional. Jika konektivitas ini lemah, potensi ekonomi kawasan tetap tidak akan optimal.

Integrasi antara situs sejarah dengan layanan pendukung di sekitarnya harus terjalin erat. Wisatawan yang berkunjung ke situs arkeologi terbesar di Asia Tenggara ini membutuhkan layanan yang terstandarisasi, mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan khas daerah. Kesiapan infrastruktur digital di lokasi wisata juga menjadi kebutuhan mendesak bagi transaksi non-tunai.

Mendorong Ekonomi Berbasis Konservasi di Muarajambi

Mengingat KCBN Muarajambi memiliki nilai sejarah tinggi, pengembangan ekonomi harus dilakukan dalam kerangka konservasi. Aktivitas komersial UMKM tidak boleh mengancam kelestarian situs purbakala. Prinsip ekonomi berbasis pelestarian menjadi batasan agar peningkatan pendapatan warga berjalan selaras dengan perlindungan warisan budaya.

Indikator keberhasilan dari kajian ini nantinya diukur dari distribusi manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh rumah tangga di desa penyangga. Penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan riil warga menjadi parameter utama. Diseminasi hasil kajian ini diharapkan memicu dialog konkret antara pemerintah daerah dan pengelola kawasan untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif.

Reporter: Ramli Ahmad
Sumber: jambiday.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top