JAMBI — Tren pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di sektor komersial tak hanya terjadi di Jakarta. Di Jambi, sejumlah pengelola gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan mulai mengadopsi sistem ini untuk menekan biaya operasional yang kian membengkak.
Data Kementerian ESDM mencatat, kapasitas PLTS terpasang nasional mencapai 1.494 MW per Januari 2026. Sektor industri dan komersial menjadi penyumbang kapasitas terbesar. Lonjakan terjadi dari sekitar 146 MW pada 2024 menjadi lebih dari 1,3 GW pada 2026.
Tekanan struktural mendorong percepatan adopsi ini. Tarif listrik golongan bisnis B-2 dan B-3 terus mengalami penyesuaian. Komponen listrik bisa menyumbang 30 hingga 40 persen dari total biaya operasional gedung komersial.
PLTS atap yang terawat dengan baik disebut mampu memangkas tagihan listrik hingga 30 persen setiap bulannya. Manfaat ini berlangsung selama 25 sampai 30 tahun masa operasional sistem.
Selain menekan biaya, PLTS atap juga meningkatkan daya saing properti. Data Knight Frank Indonesia menunjukkan, tingkat hunian gedung perkantoran bersertifikat hijau di CBD Jakarta mencapai 79,4 persen pada semester I-2025. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata hunian gedung non-hijau yang berada di 77,2 persen.
Harga sewa gedung hijau juga tumbuh 4 persen secara tahunan pada semester II-2024. Tren ini mengonfirmasi bahwa aspek keberlanjutan kini menjadi faktor pembeda yang dipertimbangkan tenant dan investor secara serius.
Pemerintah melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan penambahan 17,1 GW tenaga surya. Target ini menjadikan energi surya sebagai instrumen utama transisi energi nasional.
Bagi pemilik gedung komersial di Jambi, PLTS atap bukan sekadar alat penghemat tagihan listrik. Ini adalah aset strategis yang memiliki dua fungsi sekaligus: menurunkan OPEX operasional dan meningkatkan daya saing gedung di pasar properti yang semakin digerakkan oleh standar ESG.