JAMBI — Bawaslu Provinsi Jambi tidak menunggu tahapan Pemilu 2029 resmi dimulai untuk bergerak. Lembaga pengawas pemilu itu justru memanfaatkan masa non-tahapan untuk mengumpulkan gagasan segar dari kalangan muda melalui diskusi kelompok terfokus (FGD), Senin (29/6).
Ketua Bawaslu Provinsi Jambi, Wein Arifin, menegaskan bahwa evaluasi terhadap penyelenggaraan pemilu dan pilkada serentak tahun lalu tidak boleh berhenti pada persoalan teknis prosedural. Menurutnya, esensi evaluasi harus menyentuh substansi keadilan demokrasi yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Pemilu merupakan perangkat demokrasi untuk memilih pemimpin, di tingkat nasional maupun daerah. Melalui FGD ini kami berharap lahir berbagai masukan dan rekomendasi dari mahasiswa serta organisasi kepemudaan sebagai bekal perbaikan pelaksanaan Pemilu 2029," ujar Wein.
Sepanjang sesi diskusi, para peserta tidak hanya menjadi pendengar. Mereka melayangkan kritik tajam dan sejumlah poin masukan yang dinilai mendesak untuk ditindaklanjuti. Setidaknya ada empat agenda utama yang menjadi sorotan:
Anggota Bawaslu Provinsi Jambi, Ari Juniarman, menekankan bahwa idealisme yang melekat pada jiwa muda sangat dibutuhkan untuk menyuplai perspektif independen dan objektif di tengah kompleksitas kontestasi politik. Ia menyebut mahasiswa sebagai mitra strategis yang tidak terpisahkan dalam mengawal ekosistem politik yang sehat.
"Teman-teman mahasiswa merupakan mitra strategis Bawaslu. Kami berharap dapat memberikan saran, masukan, dan pandangan terhadap pelaksanaan pemilu, sehingga kualitas Pemilu 2029 lebih baik dibanding sebelumnya," jelas Ari.
Rofiqoh Pebrianti, anggota Bawaslu lainnya, mengapresiasi antusiasme para aktivis muda yang memadati ruang pertemuan. Menurutnya, komitmen elemen pemuda ini menjadi modal awal untuk melahirkan rekomendasi yang tajam dan aplikatif bagi masa depan kepemiluan di Jambi.
Meskipun belum memasuki tahapan resmi Pemilu 2029, proses demokrasi tetap berjalan. Anggota Bawaslu Provinsi Jambi, Indra Tritusian, mengingatkan bahwa salah satu agenda krusial yang tengah bergulir saat ini adalah pemutakhiran data pemilih secara berkelanjutan.
"Saat ini memang belum memasuki tahapan Pemilu 2029, namun proses demokrasi tetap berjalan, salah satunya melalui pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. Mahasiswa dapat ikut mengawal akurasi data pemilih sebagai bagian dari penguatan kualitas demokrasi," kata Indra.
Bawaslu Provinsi Jambi memastikan seluruh catatan kritis dari peserta FGD akan didokumentasikan sebagai rujukan resmi dalam menyusun rekomendasi kebijakan ke tingkat pusat. Langkah awal dari Jambi ini menjadi bukti bahwa daerah serius mengawal transisi kepemimpinan nasional yang bersih dan bermartabat melalui sistem demokrasi yang semakin matang.