JAMBI — Kementerian Pertanian (Kementan) memanfaatkan momen kunjungan putra Presiden Belarus, Dmitry Lukashenko, untuk menawarkan dua komoditas unggulan Indonesia. Dalam pertemuan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Menteri Andi Amran Sulaiman menyebut Belarus membutuhkan pasokan kakao dalam jumlah besar untuk industri pengolahannya.
“Kami ingin memperluas pasar ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Belarus. Hubungan yang semakin erat antara kedua negara harus memberikan manfaat nyata melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Amran dalam siaran resmi yang dikutip Rabu.
Belarus, menurut Amran, memiliki industri pengolahan cokelat yang tidak hanya memasok kebutuhan domestik, tetapi juga pasar Eropa Timur dan Rusia. Untuk menjaga pasokan pabrik-pabrik tersebut, Belarus membutuhkan sekitar 120 ribu ton kakao per tahun. Angka ini membuka peluang besar bagi petani dan eksportir kakao Indonesia.
Selain kakao, pemerintah juga mendorong ekspor minyak sawit mentah atau CPO ke negara tersebut. Belarus dinilai sebagai pintu masuk strategis bagi produk pertanian Indonesia untuk menembus pasar yang lebih luas di kawasan Eropa Timur.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendiversifikasi pasar ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selama ini, Indonesia lebih banyak bergantung pada pasar tradisional seperti India, China, dan Uni Eropa untuk komoditas sawit dan kakao.
Dengan membuka akses ke Belarus, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada satu atau dua negara tujuan, tetapi juga memperkuat posisi tawar di pasar internasional. Bagi para petani sawit dan kakao, peluang ini berarti potensi peningkatan volume penjualan dan harga yang lebih stabil.
Pemerintah akan menindaklanjuti pertemuan ini dengan negosiasi teknis terkait standar produk, tarif, dan logistik pengiriman. Jika terealisasi, ekspor ke Belarus bisa menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi sektor pertanian nasional.