IHSG BEI Ditutup Menguat 0,92 Persen Ikuti Bursa Asia, Pasar Tunggu Perkembangan Hubungan AS-Iran

Penulis: Syafruddin Amir  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 00:45:31 WIB
IHSG BEI ditutup menguat 0,92 persen di tengah pengaruh positif bursa saham Asia.

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup menguat 51,93 poin atau 0,92 persen ke posisi 5.695,12. Penguatan ini mengikuti mayoritas bursa saham di kawasan Asia di tengah sentimen global yang menanti perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus alias Nico menyebut sentimen dari mancanegara masih mendominasi pergerakan indeks. “Menguatnya pasar bursa regional Asia turut menopang IHSG. Pasar menantikan perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran,” ujarnya dalam kajian di Jakarta, Rabu.

Perkembangan Hubungan AS-Iran dan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan

Pelaku pasar, kata Nico, menanti hasil perundingan antara AS dan Iran di Doha, Qatar. Utusan Presiden AS Donald Trump telah tiba di Doha pada Selasa (30/6), meskipun mediator Qatar meredam ekspektasi akan adanya terobosan besar. Kedua pihak tidak bertemu langsung, namun pasar tetap memantau upaya perdamaian yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, sentimen negatif juga membayangi. Pasar terbebani oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Spekulasi ini menguat menjelang publikasi data tenaga kerja AS pada Kamis (2/7).

Data Ekonomi Domestik Lesu, Inflasi Juni dan Defisit Perdagangan Tekan Pasar

Dari dalam negeri, kenaikan IHSG ditopang oleh laju sejumlah emiten konglomerasi meskipun data-data ekonomi domestik menunjukkan pelemahan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun tajam menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026. Angka ini menandai level terendah sejak Juni 2025 dan kontraksi kedua sektor manufaktur tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulan Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan (mtm). Secara year to date (ytd), inflasi tercatat 1,79 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,34 persen (yoy). Kenaikan ini dipicu siklus musiman, kenaikan bahan baku, serta harga BBM.

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 juga mencatat defisit 1,61 miliar dolar AS. Ini merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir. “Hal ini menunjukkan belum berdampaknya upaya menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan inflasi. Kondisi ini mendorong BI aktif menjaga nilai rupiah,” ujar Nico.

Empat Saham Penguat dan Sektor yang Paling Tertekan

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat. Sektor barang baku memimpin dengan kenaikan 2,81 persen, disusul sektor energi (2,63 persen) dan infrastruktur (1,39 persen). Tiga sektor lainnya justru melemah, dengan sektor transportasi dan logistik turun paling dalam minus 0,69 persen.

Saham-saham dengan penguatan terbesar adalah COCO, BBRM, PADI, BEEF, dan CSMI. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain RGAS, MMIX, MTLA, MSKY, dan RONY.

Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.542.000 kali transaksi dengan volume 17,06 miliar lembar saham senilai Rp10,26 triliun. Sebanyak 391 saham naik, 263 saham menurun, dan 305 saham stagnan.

Di bursa regional Asia, indeks Nikkei menguat 0,60 persen, Shanghai naik 0,44 persen, dan Shenzen menguat 0,39 persen. Sementara itu, indeks Strait Times melemah 0,11 persen.

Reporter: Syafruddin Amir
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top