JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia kembali mendapat tekanan setelah Fitch Ratings merilis laporan terbaru yang menyoroti kerapuhan fundamental ekonomi nasional. Lembaga pemeringkat internasional itu menyebut indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, dan arus modal keluar yang masif sebagai sinyal memburuknya iklim investasi.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, perhatian utama Fitch bukan sekadar pada angka-angka makro, melainkan pada aspek kepercayaan investor yang terus tergerus akibat memburuknya tata kelola ekonomi.
Dalam laporannya, Fitch Ratings memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan terhadap perekonomian Indonesia berpotensi meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah. Risiko terbesarnya adalah penurunan peringkat utang negara (sovereign rating) yang saat ini masih bertahan di level BBB dengan prospek negatif sejak Maret 2026.
"Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia," ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Selain faktor eksternal dari laporan Fitch, pasar juga diguncang data neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Angka ini mengakhiri tren surplus yang telah bertahan selama 72 bulan beruntun atau enam tahun terakhir.
Dari sisi global, ketegangan geopolitik kian meningkat. Perang Rusia-Ukraina kembali memanas menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki. Sementara itu, ketidakpastian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz turut membatasi penurunan harga minyak mentah dunia.
Pada penutupan perdagangan, kurs rupiah berada di level Rp17.995 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp17.963 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.999 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.960 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi catatan bagi pelaku pasar dan pemerintah untuk mencermati arah kebijakan ekonomi ke depan, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.