JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan pada perdagangan Rabu pagi, merespons eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Berdasarkan data Antara di Jakarta, rupiah melemah 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.984 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.980.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah. “Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Menurut laporan yang dikutip dari Sputnik, Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangkaian serangan baru ke Iran. Operasi tersebut merupakan respons langsung atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.
Pada Selasa (7/7), media nasional Iran IRIB melaporkan sebuah kapal Qatar, Al-Rekayyat, berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS. Kapal tersebut menjadi sasaran serangan setelah mengabaikan sejumlah peringatan.
Di tengah tekanan eksternal, sentimen positif datang dari data cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadev pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS, naik 700 juta dolar AS dari posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa. Namun, perkembangan ini terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Lukman menambahkan, investor masih mengantisipasi rilis data indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan naik ke angka 125. Data tersebut bisa menjadi katalis pergerakan rupiah selanjutnya.
Berdasarkan faktor-faktor yang ada, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pasar masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah dan respons kebijakan moneter domestik.