MUARO JAMBI — Kawasan cagar budaya nasional ini membentang di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo. Di dalamnya terdapat puluhan struktur candi, kanal kuno, tanggul, dan bangunan bata yang menjadi bukti peradaban masa lampau. Para arkeolog menduga situs ini telah berfungsi sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi.
Tayangan YouTube Shorts @HelenShuuu yang mengulas kunjungan Najwa Shihab ke Muaro Jambi mengungkap fungsi kawasan ini sebagai pusat pembelajaran agama Buddha. Dalam tayangan itu, narasumber menyebut situs tersebut berperan layaknya perguruan tinggi pada zamannya.
Meski demikian, para sejarawan hingga kini masih meneliti pada masa kekuasaan siapa fungsi pendidikan itu berkembang pesat. Belum ada prasasti yang secara khusus menjelaskan tahun pendirian maupun penguasa yang membangun kompleks ini.
Berdasarkan buku Persinggahan Terakhir: Rumah Peradaban Muaro Jambi, belum ditemukan prasasti yang secara tegas menghubungkan Muaro Jambi dengan Kedatuan Sriwijaya. Ketiadaan bukti tertulis membuat kaitan kedua entitas ini masih menjadi kajian para ahli.
Namun, catatan pendeta Buddha Tiongkok, I-Tsing, pada abad ke-7 Masehi menyebut wilayah Jambi saat itu diperintah Kerajaan Melayu atau Mo-lo-yeu. Catatan yang sama mengungkapkan kerajaan tersebut kemudian berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pada akhir abad yang sama.
Sejumlah temuan arkeologi memperkuat dugaan itu. Arca Buddha dan Bodhisattwa berukuran besar, struktur bata kuno, prasasti, serta keramik dari Tiongkok ditemukan di kawasan Muaro Jambi. Semua itu menunjukkan kuatnya tradisi agama Buddha di Sumatra pada masa itu.
Secara historis, Bukit Siguntang di Palembang dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Buddha masa Sriwijaya. Sejumlah peneliti menduga, ketika jumlah biksu dan biksuni bertambah, sebagian aktivitas dipindahkan ke Muaro Jambi. Namun, dugaan ini masih memerlukan bukti arkeologis yang lebih kuat.
Kawasan ini diperkirakan menjadi saksi perjalanan dua kekuatan besar di Sumatra. Diduga telah berdiri pada masa Kerajaan Melayu, kemudian tetap dimanfaatkan saat berada di bawah pengaruh Sriwijaya, dan terus digunakan setelah Kerajaan Melayu kembali berkuasa.
Di balik nilai sejarahnya yang tinggi, Kompleks Percandian Muaro Jambi kini menghadapi tantangan pelestarian. Dalam tayangan YouTube tersebut, disebutkan kawasan cagar budaya nasional ini berhadapan dengan ancaman aktivitas industri batu bara di sekitarnya.
Kondisi itu menjadi perhatian karena keberadaan situs bersejarah memerlukan perlindungan dari kerusakan akibat aktivitas manusia maupun perubahan lingkungan. Pelestarian Muaro Jambi disebut sebagai tanggung jawab bersama agar warisan peradaban Nusantara tidak hilang ditelan zaman.