JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian terasa di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pada penutupan perdagangan Kamis, kurs rupiah tercatat ambrol 114 poin ke level Rp18.128 per dolar AS, level yang jarang disentuh dalam beberapa bulan terakhir.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak lepas dari aksi buru dolar oleh investor global. “Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang kini bertengger di kisaran 74 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi lebih lama.
Di sisi lain, pelaku pasar saat ini juga tengah menantikan rilis data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS. Data tersebut dinilai krusial karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan, yang secara langsung akan mempengaruhi pergerakan dolar AS.
Meski tekanan eksternal begitu kuat, Amru menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup terjaga dan membantu membatasi tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah. Hal ini tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang justru meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik dari 144,9 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.
“Kenaikan tersebut memperkuat kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” ungkap Amru. Selain itu, inflasi yang tetap terkendali serta komitmen Bank Indonesia melalui bauran kebijakan moneter menjadi faktor penopang lainnya.
Namun, dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global dibandingkan faktor domestik. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga ikut melemah ke level Rp18.090 per dolar AS, dari sebelumnya Rp18.005 per dolar AS, mengonfirmasi tekanan yang terjadi di pasar spot.