JAMBI — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah tiga puluh menit perdagangan berlangsung, volume transaksi mencapai 6,19 miliar saham dengan nilai Rp2,23 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 708.571 kali.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 360 saham menguat, 195 saham melemah, dan 182 saham lainnya stagnan. Kondisi ini mencerminkan sentimen positif yang cukup dominan di awal perdagangan.
Hampir seluruh indeks utama di Asia yang telah membuka perdagangan pagi ini kompak melesat. KOSDAQ dan KOSPI Korea Selatan, Nikkei 225 dan Topix Jepang, Hang Seng Hong Kong, serta Shanghai Composite dan Shenzhen Composite China kompak berada di zona hijau.
Indeks lainnya seperti PSEi Filipina, KLCI Malaysia, Straits Times Singapura, CSI 300 China, dan Ho Chi Minh Stock Index Vietnam juga mencatatkan penguatan. Kondisi ini menunjukkan gelombang optimisme yang merata di kawasan Asia pada hari ini.
Meskipun dibuka menguat, analis dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengingatkan bahwa penguatan IHSG masih dibayangi ketidakpastian global. Dua faktor utama yang menjadi perhatian adalah meningkatnya tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak, serta pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 hanya sebesar 3%, lebih rendah dari estimasi sebelumnya. Kombinasi risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi global ini berpotensi membatasi ruang penguatan IHSG lebih lanjut dalam jangka pendek.
Aktivitas perdagangan di awal sesi terbilang cukup cair. Dalam setengah jam pertama, nilai transaksi sudah mencapai Rp2,23 triliun, menandakan partisipasi investor yang aktif meskipun sentimen global masih mixed. Investor disarankan untuk tetap mencermati pergerakan harga minyak dan perkembangan negosiasi AS-Iran sebagai indikasi arah pasar selanjutnya.