Gulai Tepek Ikan dan Tempoyak, Kuliner Khas Jambi yang Wajib Dicoba

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:35:31 WIB
Gulai Tepek Ikan. (Foto: NET)

Gulai Tepek Ikan dan Tempoyak, Kuliner Khas Jambi yang Wajib Dicoba

Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa dari setiap provinsinya. Salah satu wilayah yang menyimpan harta karun resep tradisional adalah Jambi.

Di antara sekian banyak hidangan yang ada, Gulai Tepek Ikan dan Tempoyak khas jambi menjadi perpaduan unik yang menyatukan olahan ikan tradisional dengan cita rasa fermentasi durian yang legendaris.

Menjelajahi kuliner Gulai Tepek Ikan dan Tempoyak khas jambi bukan sekadar makan, melainkan sebuah perjalanan memahami sejarah, kedekatan masyarakat dengan sungai, serta kreativitas dalam mengolah hasil alam menjadi masakan yang berkelas.

Mengenal Gulai Tepek Ikan

Gulai Tepek Ikan adalah hidangan tradisional yang memadukan olahan ikan berbentuk tepek—adonan pipih berbahan dasar ikan—dengan kuah gulai santan yang kaya akan rempah.

Sajian ini dikenal memiliki cita rasa gurih, lembut, dan harum karena menggunakan campuran bumbu rempah Nusantara yang dimasak bersama santan.

Dalam khazanah kuliner Melayu Jambi, hidangan ini termasuk menu istimewa yang kerap dihidangkan pada momen keluarga, acara adat, hingga jamuan penting.

Secara umum, tepek ikan dibuat dari daging ikan yang dihaluskan, dicampur dengan tepung sagu dan bumbu sederhana, kemudian dibentuk, direbus, dan disiram dengan kuah gulai.

Perpaduan tekstur kenyal-lembut dari tepek dengan kuah gulai yang kaya rasa menjadikannya berbeda dari gulai ikan potong biasa.

Sejarah, Geografis, dan Latar Budaya

Jambi merupakan wilayah yang memiliki hubungan erat dengan budaya sungai dan tradisi kuliner Melayu. Karena daerah ini kaya akan hasil perairan sungai, ikan menjadi bahan pangan utama.

Dari kondisi geografis inilah lahir beragam olahan ikan tradisional, termasuk tepek ikan.

Masyarakat Jambi tidak hanya mengolah ikan dengan cara digoreng atau dipindang, tetapi juga mengubahnya menjadi adonan yang lebih tahan diolah untuk berbagai jenis hidangan.

Secara budaya, masakan ini sering dikaitkan dengan tradisi rumahan yang bernilai tinggi.

Tidak jarang, masyarakat juga memadukan kuahnya dengan tempoyak—daging durian yang telah difermentasi—untuk mendapatkan cita rasa asam, gurih, dan pedas yang sangat khas.

Mengenal Tempoyak Khas Jambi

Tempoyak merupakan bumbu atau bahan makanan hasil fermentasi durian yang sangat populer di Jambi.

Proses fermentasinya dilakukan dengan cara memisahkan daging buah durian dari bijinya, lalu dicampur dengan sedikit garam, kemudian disimpan di dalam wadah tertutup rapat selama beberapa hari.

Proses ini mengubah rasa manis durian menjadi asam yang khas dengan aroma yang sangat tajam dan kuat.

Dalam tradisi kuliner Jambi, tempoyak bukan sekadar bahan pelengkap, melainkan pemberi identitas rasa yang mendalam.

Dalam olahan seperti Gulai Tepek Ikan, tempoyak berfungsi sebagai penyeimbang rasa gurih dan creamy dari santan.

Sifat asam dari hasil fermentasi durian ini mampu memotong rasa lemak pada santan, sehingga hidangan terasa lebih segar dan tidak membuat cepat bosan.

Aroma unik tempoyak yang dipadukan dengan rempah seperti kunyit, serai, dan lengkuas menciptakan karakter aroma masakan yang sangat kuat dan menggugah selera.

Ciri Khas dan Keunikan Rasa

Ciri khas utama terletak pada penggunaan tepek yang bertekstur lembut namun kenyal, sangat cocok menyerap kuah gulai.

Kuah gulainya cenderung gurih dengan aroma rempah yang kuat, berwarna kuning keemasan dari kunyit, serta diperkaya dengan santan yang memberikan tekstur creamy.

Penambahan tempoyak ke dalam campuran bumbu akan mengubah profil rasa kuah menjadi lebih segar, asam, dan tajam, memberikan sensasi makan yang menggugah selera.

Panduan Membuat Gulai Tepek Ikan Khas Jambi

Proses pembuatan masakan ini terbagi menjadi dua tahap utama: membuat tepek ikan dan menyiapkan kuah gulai.

Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan ikan yang segar, komposisi sagu yang tepat, serta ketelitian saat memasak kuah gulai agar tidak pecah.

Bahan-Bahan

Bahan Tepek Ikan: 500 gram daging ikan tenggiri/gabus (haluskan), 200 gram tepung sagu, 2 siung bawang putih (haluskan), 1 sdt garam, 1/2 sdt merica, 100 ml air es.

Bahan Kuah Gulai: 500 ml santan encer, 250 ml santan kental, 100 gram tempoyak, daun salam, daun jeruk, serai, dan lengkuas.

Bumbu halus: 6 bawang merah, 3 bawang putih, 4 kemiri, 3 cm kunyit, 2 cm jahe, ketumbar, dan 3 cabai merah besar.

Langkah Pembuatan

  1. Membuat Adonan Tepek: Campurkan daging ikan halus, bawang putih, garam, merica, dan air es. Masukkan tepung sagu sedikit demi sedikit hingga bisa dipulung. Jangan terlalu lama mengaduk agar tekstur tidak keras.
  2. Membentuk dan Merebus: Bentuk adonan menjadi pipih lonjong. Rebus dalam air mendidih hingga mengapung. Setelah matang, tiriskan.
  3. Memasak Kuah: Tumis bumbu halus dengan daun-daunan hingga harum. Masukkan tempoyak, aduk rata. Tuang santan encer, tambahkan garam dan gula. Masak dengan api sedang.
  4. Sentuhan Akhir: Setelah mendidih, masukkan santan kental dan tepek ikan yang sudah direbus. Masak hingga bumbu meresap dan kuah mengental. Koreksi rasa, lalu sajikan.

Dimana Menemukan Hidangan Ini?

Di Jambi, sajian ini dapat ditemukan di rumah makan khas daerah, acara perayaan adat, serta sajian rumahan.

Meski belum sepopuler rendang, kini minat terhadap kuliner tradisional meningkat, membuat banyak konten masak daerah mulai mempopulerkan kembali resep ini.

Dengan bahan yang mudah diperoleh, membuat sajian ini sendiri di rumah menjadi opsi terbaik untuk merasakan keautentikan rasanya.

Kesimpulan

Menikmati kuliner daerah adalah cara terbaik untuk meresapi kearifan lokal suatu wilayah.

Perpaduan tepek ikan yang lembut dengan kuah yang gurih, ditambah sentuhan asam dari tempoyak, menjadikan hidangan ini salah satu bukti kekayaan kuliner yang harus tetap dilestarikan.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan kekayaan rasa dari Sumatra, mencoba membuat sendiri Gulai Tepek Ikan dan Tempoyak khas jambi di rumah akan memberikan pengalaman kuliner yang tidak terlupakan.

Reporter: Redaksi
Back to top