JAMBI — BPDP dan Bapeltan Jambi menggelar Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi pekebun sawit Angkatan IV, V, dan VI. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor perkebunan kelapa sawit sekaligus mendorong praktik budidaya ramah lingkungan.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun, Dulmuin, mengungkapkan produktivitas sawit rakyat di wilayahnya masih rendah. Saat ini, rata-rata produksi hanya berkisar 1,6 hingga 1,7 ton per hektare.
"Melalui penerapan teknologi budidaya yang baik, penggunaan pupuk organik secara berkelanjutan, serta pengelolaan kebun yang lebih profesional, produktivitas berpotensi meningkat hingga 2–3 ton per hektare," ujar Dulmuin dalam sambutannya.
Dulmuin menambahkan, sejak 2019 hingga 2026 Kabupaten Sarolangun telah merealisasikan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas sekitar 2.600 hektare. Sebagian tanaman hasil peremajaan kini mulai memasuki fase menghasilkan.
Ia menjelaskan, dengan teknologi budidaya yang tepat, tanaman sawit bahkan bisa mulai menghasilkan buah pasir pada usia sekitar 2,5 tahun. Hal ini diyakini mampu mempercepat pengembalian investasi petani dan meningkatkan kesejahteraan keluarga pekebun.
"Keberhasilan program peremajaan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul, tetapi juga kemampuan petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang tepat. Pelatihan seperti ini memiliki peran yang sangat penting," tegas Dulmuin.
Pembukaan pelatihan dihadiri secara daring oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti. Turut hadir Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Pelaksana Tugas Kepala Bapeltan Jambi, serta perwakilan Direktorat Kelapa Sawit dan Aneka Palma.
Kehadiran pemangku kepentingan dari pusat hingga daerah menunjukkan sinergi kuat dalam meningkatkan daya saing pekebun sawit Indonesia. BPDP juga terus menyalurkan bantuan sarana dan prasarana bagi pekebun untuk mempercepat peningkatan produktivitas.
Pelatihan ini tidak sekadar memberikan materi teknis, tetapi juga menjadi sarana transfer teknologi agar pekebun mampu mengelola kebun secara lebih efisien. Penggunaan pupuk organik diharapkan menjaga kesuburan lahan, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sekaligus meningkatkan hasil produksi dalam jangka panjang.
Melalui kolaborasi BPDP, BPPSDMP, Direktorat Jenderal Perkebunan, pemerintah daerah, dan Bapeltan Jambi, pemerintah optimistis akan lahir pekebun sawit yang profesional, adaptif terhadap teknologi, dan mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.