JAMBI — Gubernur Jambi Al Haris mengakui kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya. Meski diperkirakan memasuki musim kemarau, hujan kerap turun secara tiba-tiba, membuat pola penanganan harus terus disesuaikan.
Untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang lebih luas, Pemprov Jambi telah menyiagakan satu unit helikopter di Bandara Sultan Thaha Jambi. Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga sudah mulai dilaksanakan untuk mengendalikan titik api yang terpantau.
"Kalau dari sisi kesiapan, tim kita lengkap, personel juga siap, sarana dan prasarana sudah disiapkan. Helikopter juga siaga di bandara, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca yang sudah kita laksanakan," kata Al Haris, Rabu (15/7).
Al Haris menjelaskan, perubahan cuaca yang ekstrem membuat pola pencegahan karhutla tidak bisa mengandalkan perkiraan musim semata. Ia meminta seluruh tim di lapangan untuk terus menyesuaikan langkah secara dinamis.
"Cuaca kita sekarang ekstrem dan tidak menentu. Kita perkirakan memasuki musim kemarau, ternyata justru turun hujan. Kondisi seperti ini membuat kita harus terus menyesuaikan langkah di lapangan," ujarnya.
Gubernur mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh ancaman kebakaran hutan dan lahan, terutama saat memasuki musim kemarau. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan meskipun cuaca masih kerap turun hujan.
"Intinya, kita siap. Seluruh tim tetap siaga menghadapi potensi karhutla," tegas Al Haris.
Al Haris meminta seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, hingga instansi terkait lainnya, untuk terus memperkuat koordinasi. Langkah ini dinilai krusial agar penanganan karhutla berjalan cepat, tepat, dan efektif.
"Kita harus tetap waspada dan jangan meremehkan situasi. Tim di daerah harus terus melakukan pemantauan, sementara koordinasi antara BPBD, TNI, Polri, serta seluruh instansi terkait harus semakin diperkuat," tutupnya.