Abrasi 9 Meter per Tahun Ancam Pesisir Tanjab Timur, Bupati Dillah Desak Pemerintah Pusat Bangun Pemecah Ombak

Penulis: Syafruddin Amir  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 19:26:31 WIB
Abrasi di pesisir Tanjung Jabung Timur mencapai sembilan meter per tahun, mengancam lahan pertanian dan permukiman warga.

TANJUNG JABUNG TIMUR — Ancaman abrasi di pesisir Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur) kian nyata. Data dari Kelompok Hijau Pesisir menyebutkan, di Kecamatan Sadu, garis pantai mundur hingga 9 meter setiap tahun. Akibatnya, kebun kelapa dan lahan pertanian hilang ke laut, hasil tangkapan nelayan menurun, dan warga terpaksa membuka kawasan hutan untuk mencari penghidupan baru.

Apa yang Bisa Dilakukan Selain Menanam Mangrove?

Bupati Tanjab Timur Hj. Dillah Hikmah Sari, ST, dalam sambutannya pada Minggu (26/7/2026) di Kecamatan Nipah Panjang, menyatakan kekhawatirannya. Menurutnya, selama ini penanaman mangrove menjadi andalan, namun bibit yang ditanam kerap hancur diterjang gelombang. “Menanam mangrove saja tidak cukup. Kalau tidak dibangun pemecah ombak, bibit yang ditanam akan kembali hancur diterjang gelombang,” kata Dillah.

Ia mengaku telah meminta Dinas Lingkungan Hidup menjalin komunikasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan. Tujuannya, agar penanganan abrasi di Tanjab Timur — daerah dengan garis pantai terpanjang di Provinsi Jambi — menjadi prioritas nasional.

Pemerintah Provinsi Diminta Lebih Aktif

Koordinator Kelompok Hijau Pesisir, Arie Suryanto, menekankan bahwa persoalan abrasi dan sampah laut tidak bisa hanya dibebankan ke pemerintah kabupaten. Sebab, hampir 90 persen garis pantai Provinsi Jambi (sekitar 230 kilometer) berada di wilayah Tanjab Timur. “Kerusakan lingkungan pesisir sudah berlangsung lama. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegas Arie.

Ia mengapresiasi konsistensi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dalam menjaga Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur Jambi. Tanpa kawasan konservasi itu, kata Arie, kerusakan pesisir diperkirakan akan jauh lebih parah.

Kolaborasi Akademisi dan Masyarakat Jadi Kunci

Staf Ahli Gubernur Jambi sekaligus Guru Besar Universitas Jambi, Prof. Johanes, mengusulkan agar lokasi abrasi terparah dijadikan pusat penanaman mangrove pada peringatan Hari Mangrove Sedunia 2027. Ia juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk memperkuat rehabilitasi pesisir sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.

“Kami ingin menyampaikan langsung kondisi Tanjabtim kepada pemerintah pusat,” kata Bupati Dillah. Baginya, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan, tetapi juga menjaga lingkungan. “Menanam mangrove dan menjaga lingkungan adalah bagian dari pembangunan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi untuk menyelamatkan anak cucu kita di masa depan.”

Reporter: Syafruddin Amir
Sumber: rjnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top