JAMBI — Penguatan rupiah pagi ini menandai kelanjutan tren positif setelah sebelumnya ditutup melemah. Berdasarkan data pasar, apresiasi 45 poin ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS.
Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib sama. Yen Jepang melemah 0,21 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,37 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Sementara itu, di kelompok mata uang negara maju, pergerakan juga tidak seragam. Poundsterling Inggris dan dolar Kanada mencatat penguatan masing-masing 0,03 persen dan 0,05 persen. Sebaliknya, euro Eropa melemah 0,01 persen, dolar Australia terkoreksi 0,10 persen, dan franc Swiss turun 0,23 persen.
"Rupiah berpotensi menguat seiring pelemahan tajam pada dolar AS itu sendiri setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk menggandakan operasi buyback guna mendukung likuiditas obligasi jangka panjang," kata Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/8).
Langkah buyback tersebut dianggap pelaku pasar sebagai sinyal pelonggaran tekanan di pasar obligasi AS, yang pada gilirannya mengurangi daya tarik dolar. Kondisi ini menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS dan pidato pejabat The Fed yang dapat memengaruhi arah dolar AS. Jika dolar terus tertekan, bukan tidak mungkin rupiah menembus level psikologis Rp17.750.
Investasi mengandung risiko.