JAMBI — Tragedi memilukan terjadi di Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS), salah satu rumah sakit pemerintah terbesar di Islamabad. Kebakaran yang melanda gedung rumah sakit pada pekan ini menyebabkan 14 bayi baru lahir meninggal dunia. Insiden ini langsung memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk organisasi profesi dokter, terkait lemahnya standar keselamatan gedung.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rentannya fasilitas kesehatan di berbagai belahan dunia, dan betapa pentingnya prosedur keselamatan yang ketat, terutama di ruang yang merawat pasien paling rentan seperti bayi baru lahir.
Sejumlah saksi mata dan kerabat pasien melontarkan kesaksian yang mengkhawatirkan. Mereka menyebutkan bahwa pintu ruang perawatan bayi terkunci saat api mulai berkobar. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang mempersulit proses penyelamatan para bayi.
Jaweria, seorang ibu yang kehilangan bayinya dalam insiden ini, menyampaikan kesedihan dan kemarahannya kepada kantor berita AFP. Ia mengaku harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian. "Selama 2 jam saya terus menangis dan meratap. Polisi tiba setelah 4 jam dan mengatakan mereka di sini untuk menyelidiki. Mengapa para dokter meninggalkan anak-anak di sana?" ujarnya dengan nada kecewa. Ia juga menyayangkan tidak ada upaya maksimal yang dilakukan tim penyelamat untuk menyelamatkan bayi-bayi yang terbakar di dalam ruangan.
Menanggapi tuduhan tersebut, Rana Imran Sikander selaku direktur eksekutif rumah sakit memberikan klarifikasi berbeda. Ia menegaskan kepada BBC bahwa pintu ruang bersalin sebenarnya tidak terkunci, melainkan dijaga ketat oleh petugas. Langkah ini disebutnya sebagai prosedur standar untuk melindungi bayi dari risiko pencurian, sebuah kejahatan yang pernah terjadi di rumah sakit pemerintah Pakistan sebelumnya.
Selain itu, terungkap pula bahwa gedung yang menjadi lokasi ruang perawatan bayi tersebut sedang dalam proses renovasi dan perbaikan. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah kerabat pasien yang berada di lokasi kejadian, menambah kompleksitas investigasi penyebab kebakaran.
Pakistan Medical Association (PMA) selaku organisasi yang mewakili para dokter di Pakistan melontarkan kecaman keras atas insiden ini. PMA menilai kematian belasan bayi tersebut merupakan cerminan nyata dari kegagalan sistemik, baik secara administratif maupun regulasi dalam pengelolaan infrastruktur kesehatan di negara itu. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan di seluruh fasilitas kesehatan.
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, telah menyampaikan duka cita yang mendalam secara resmi. Ia menyebut kehilangan belasan nyawa bayi baru lahir ini sebagai duka mendalam yang tak tergantikan bagi bangsa Pakistan. Pemerintah pun berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mengusut tuntas penyebab kebakaran dan memastikan hal serupa tidak terulang kembali.
Peristiwa duka ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya standar keselamatan, terutama di fasilitas kesehatan. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan, dan semoga kejadian serupa tidak pernah terjadi lagi di mana pun, termasuk di Indonesia.