Harga barang impor di Jambi berpotensi turun setelah nilai tukar rupiah ditutup menguat 84 poin atau 0,47 persen menjadi Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Kamis. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.763 per dolar AS. Pelemahan indeks dolar AS dan data tenaga kerja swasta Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi menjadi pemicu utama pergerakan ini.
JAMBI — Sentimen positif menyelimuti pasar keuangan Indonesia setelah nilai tukar rupiah sukses ditutup menguat pada perdagangan Kamis. Berdasarkan data pasar spot, rupiah naik 84 poin atau 0,47 persen ke level Rp17.679 per dolar AS, berbalik dari posisi Rp17.763 per dolar AS pada penutupan sebelumnya.
Penguatan ini terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS yang berada di area 99,27. Kondisi itu membuka ruang bagi rupiah dan sejumlah mata uang Asia lainnya untuk menguat.
Bagi pelaku usaha di Jambi, pergerakan kurs ini bisa berarti penurunan biaya impor bahan baku dan barang modal. Harga gawai, pupuk, hingga suku cadang kendaraan yang selama ini terpengaruh fluktuasi dolar berpeluang ikut terkoreksi dalam waktu dekat.
Namun, pelaku ekspor seperti perkebunan sawit dan karet di Jambi perlu mencermati situasi ini. Penguatan rupiah membuat nilai tukar hasil penjualan dalam dolar menjadi lebih kecil ketika dikonversi ke rupiah.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menjelaskan, penguatan rupiah dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan swasta AS yang lebih lemah dari perkiraan. Data ADP Employment Change mencatat sektor swasta AS hanya menambah 38 ribu pekerja pada Agustus, berada di bawah estimasi pasar sebesar 47 ribu.
“Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Dengan data yang meleset dari target, pasar kembali membuka peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Ekspektasi itulah yang menekan dolar AS dan mengangkat nilai tukar rupiah.
Eskalasi konflik AS-Iran yang meningkatkan ketidakpastian geopolitik disebut belum menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah saat ini. Harga minyak yang mulai terkoreksi dari level tertingginya ikut mengurangi tekanan terhadap mata uang kawasan.
Menurut Amru, penguatan rupiah pada hari itu lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan, berada di level Rp17.689 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.770 per dolar AS.