JAMBI — PLN Indonesia Power menyiapkan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 60 MWp dan baterai penyimpanan energi 200 MWh di 10 lokasi terisolasi Sulawesi Tengah dengan estimasi investasi Rp3,3 triliun. Proyek dedieselisasi ini menyasar wilayah yang selama ini bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel, sekaligus berpotensi menekan biaya pokok penyediaan listrik hingga Rp1.000 per kWh.
PLN Indonesia Power menggandeng PT ACE Energy Service (ACEES) untuk menggarap proyek dedieselisasi di 10 titik terisolasi Sulawesi Tengah. Rencana pembiayaan proyek ini didukung konsorsium perbankan Korea dan Indonesia. Nilai investasinya mencapai Rp3,3 triliun.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyatakan kolaborasi ini bukan sekadar menambah kapasitas pembangkit energi baru terbarukan. Menurut dia, transisi energi juga harus memperkuat keandalan aset, industri pendukung, teknologi, dan kompetensi nasional.
"Kami ingin transisi energi memberikan nilai tambah yang lebih luas. Bukan hanya menghadirkan energi yang lebih bersih, tetapi juga menciptakan efisiensi, memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan TKDN, dan membangun kapabilitas Indonesia agar semakin kompetitif di tingkat regional," ujar Bernadus dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Sepuluh lokasi yang masuk proyek ini tergolong sistem kelistrikan terisolasi. Selama bertahun-tahun, pasokan listrik di wilayah tersebut bergantung pada pembangkit diesel yang mahal secara operasional.
Integrasi PLTS dan BESS dinilai menjadi solusi paling relevan untuk kondisi geografis seperti itu. Panel surya memasok energi di siang hari, sementara baterai menyimpan kelebihan daya untuk dipakai saat matahari tidak bersinar.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Indonesia Power Julita Indah menjelaskan kombinasi dua teknologi itu memberi manfaat ganda. "Integrasi PLTS dan BESS memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan menekan ketergantungan terhadap bahan bakar diesel," kata Julita.
Dengan sistem penyimpanan energi, lanjut dia, pasokan listrik dari PLTS dapat dikelola lebih optimal. Keandalan sistem tetap terjaga sekaligus membuka potensi efisiensi biaya penyediaan listrik.
Proyek ini juga diarahkan memperkuat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). PLN Indonesia Power berencana memakai panel surya produksi dalam negeri dari Trina Mas Agra Indonesia.
Potensi penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) diperkirakan mencapai sekitar Rp1.000 per kWh. Besaran penghematan itu bergantung pada karakteristik sistem kelistrikan di masing-masing lokasi.
Angka tersebut signifikan bagi PLN. Selama ini, pembangkit diesel di daerah terisolasi menjadi salah satu penyumbang biaya penyediaan listrik tertinggi karena harga bahan bakar dan logistik pengirimannya.
Selain proyek pembangkit, PLN Indonesia Power memperluas bisnis pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) turbin serta rotating equipment. Langkah ini ditempuh lewat sejumlah kerja sama dengan mitra industri.
Anak usaha PLN Indonesia Power Services (PLN IP Services) menjalin kolaborasi dengan PT ABB Sakti Industri. Cakupannya meliputi pemeliharaan dan perbaikan peralatan, penyediaan produk dan suku cadang ABB, hingga life assessment generator dan motor.
Sinergi ini menggabungkan pengalaman PLN IP Services dalam pengelolaan aset pembangkitan dengan teknologi dan kompetensi teknis ABB. Tujuannya meningkatkan keandalan sekaligus memperpanjang usia operasi aset.
PLN IP Services juga menggandeng PT Barata Indonesia (Persero) dan Technofit Sdn Bhd untuk membangun Pusat MRO Turbin dan Rotating Equipment di Plant PKT Cilegon. Dalam skema ini, PLN IP Services berperan sebagai integrator solusi dan kontraktor lapangan.
Barata Indonesia memperkuat kapabilitas heavy workshop dan manufaktur, sedangkan Technofit menyokong teknologi, pengalaman teknis, dan jaringan internasional. Kerja sama itu mencakup alih teknologi, peningkatan TKDN, serta pengembangan kompetensi SDM.
Bagi PLN Indonesia Power, rangkaian proyek ini menunjukkan arah bisnis yang lebih luas dari sekadar jual beli listrik. Perusahaan menyasar pasar MRO hingga Asia Pasifik seiring pertumbuhan pembangkit di kawasan.
Keberhasilan proyek dedieselisasi di Sulawesi Tengah akan menjadi ujian pertama seberapa jauh skema PLTS plus baterai bisa menggantikan diesel di sistem terisolasi. Jika biaya penyediaan listrik benar-benar turun mendekati Rp1.000 per kWh, model serupa berpeluang direplikasi ke ratusan lokasi terisolasi lain di Indonesia.