Izin Tambang Mandek, Proyek Emas Rp7,03 T Darma Henwa Tak Bisa Dibor

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:21:31 WIB
Ilustrasi kegiatan pengeboran tambang emas PT Darma Henwa Tbk di Gayo Lues, Aceh.

JAMBI — PT Darma Henwa Tbk (DEWA) belum bisa mengebor aset tambang emasnya senilai Rp7,03 triliun di Gayo Lues, Aceh, karena Izin Usaha Pertambangan eksplorasi anak usahanya, PT Gayo Mineral Resources, terhenti sejak 8 Maret 2026 dan belum juga diperpanjang. Mandeknya perizinan membuat rencana pengeboran Februari 2026–Juni 2027 berstatus force majeure, padahal perusahaan sudah menyerap pinjaman ratusan miliar rupiah untuk membiayai proyek tersebut.

Manajemen DEWA mengakui tidak ada satu pun lubang bor baru yang dibuat pada kuartal III-2026. Pengakuan itu disampaikan dalam laporan keterbukaan informasi Bursa, Selasa (13/10/2026). Padahal, hingga akhir kuartal II-2026, total pengeboran sudah mencapai 31.485 meter di 102 lubang bor pada prospek Upper Tengkareng. Kini kegiatan di lokasi hanya berkutat pada persiapan: mengganti corebox, menata coreshed, dan menggelar kajian teknis.

Analisis petrografi dan mineralogi otomatis baru menunjukkan kemajuan 15 dari 70 sampel. Angka itu jauh dari cukup untuk membuka lubang bor baru. Tanpa kepastian perpanjangan IUP eksplorasi menjadi IUP Operasi Produksi, aset Rp7 triliun itu untuk sementara hanya menjadi angka di atas kertas laporan keuangan.

Pinjaman Rp455 Miliar Sudah Cair 65 Persen

Ironi menyertai mandeknya proyek ini. DEWA sudah mengikat pinjaman tanpa bunga berplafon Rp455 miliar dari PT Seraya Laju Karya, dengan jatuh tempo 31 Desember 2028. Komitmen itu diteken pada 24 November 2025, hanya tiga hari setelah DEWA mengakuisisi mayoritas saham Gayo Mineral lewat PT Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN).

Realisasi penarikan berjalan cepat. Pada dua bulan pertama, November–Desember 2025, dana yang cair mencapai Rp196,53 miliar. Hingga Juni 2026, total serapan menembus Rp297,88 miliar atau setara 65 persen dari plafon. Pinjaman itu kini menopang kegiatan yang statusnya standby menunggu izin.

SRK Consulting Masuk, Audit Cadangan Standar JORC Disiapkan

DEWA tidak tinggal diam. Perusahaan menggandeng SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd, konsultan kelas dunia, untuk menyusun domain geologi sekaligus menyiapkan audit cadangan berstandar JORC. Kunjungan lapangan pertama SRK sudah dilakukan pada September 2026.

Langkah itu bagian dari persiapan jangka panjang. Prospek Upper Tengkareng dan Lower Tengkareng di Gayo Lues digadang menjadi tumpuan baru kontraktor Grup Bakrie ini untuk bertransformasi dari kontraktor tambang menjadi pemilik tambang emas-tembaga.

Mengapa Perizinan Jadi Penentu

IUP eksplorasi adalah pintu masuk sebelum perusahaan bisa mengantongi IUP Operasi Produksi. Tanpa perpanjangan, seluruh rangkaian aktivitas lapangan—termasuk pengeboran yang sudah direncanakan sejak Februari 2026—tidak bisa dilanjutkan. Status force majeure membuat jadwal pengeboran hingga Juni 2027 praktis bergantung pada keputusan regulator.

Bagi investor, situasi ini menempatkan DEWA pada posisi menunggu. Aset besar sudah dibukukan, pendanaan sudah disiapkan, konsultan internasional sudah dikontrak, tetapi sumber pendapatan dari tambang emas belum bisa direalisasikan sampai izin terbit. Perpanjangan IUP eksplorasi Gayo Mineral kini menjadi penentu apakah proyek senilai Rp7,03 triliun itu bergerak atau tetap mandek.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top