JAMBI — Muhammadiyah resmi menyatakan penolakan terhadap rencana konser penyanyi tenor Italia, Andrea Bocelli, di Candi Borobudur, Magelang, dan JIExpo Kemayoran, Jakarta. Penolakan disampaikan Ketua Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, dengan alasan rekam jejak Bocelli yang dianggap pro Israel. Sikap Muhammadiyah menyusul penolakan serupa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu sebelumnya.
Anwar Abbas menyampaikan penolakan itu dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026). Ia meminta pemerintah tidak berlindung di balik alasan seni atau ekonomi untuk tetap menggelar konser tersebut. Menurutnya, jati diri bangsa sebagai negara yang menentang pelanggaran kemanusiaan harus diutamakan.
Rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia mencakup dua lokasi. Konser pertama dijadwalkan di Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026, sedangkan konser kedua digelar di JIExpo Jakarta pada 3 November 2026.
Anwar Abbas merinci sejumlah rekam jejak Bocelli yang menjadi dasar penolakan Muhammadiyah. Ia menyebut pada 2010 Bocelli ditengarai ikut serta dalam kegiatan penggalangan dana untuk mendukung militer Israel, Israel Defense Force (IDF).
Pada 2022, lanjutnya, Bocelli tampil dalam konser di Stadion Bloomfield, Tel Aviv, yang dihadiri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Setahun kemudian, pada 2023, Bocelli disebut pernah mengirim dukungan bagi pembebasan sandera Israel.
"Dia juga tidak pernah berkomentar sedikit pun soal buruknya dampak dari agresi Israel di Gaza," ujar Anwar.
Dari sejumlah catatan itu, Anwar menilai pemerintah seharusnya tidak mentoleransi penyelenggaraan konser dengan alasan apa pun. Ia mengingatkan bahwa sikap anti terhadap hal yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan adalah bagian dari jati diri bangsa.
"Pemerintah jangan mentolerir dengan alasan seni atau ekonomi, tapi mengabaikan jati diri sebagai bangsa yang anti terhadap hal yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," kata Abbas dalam keterangannya, Rabu 14 Oktober 2026.
Sebelum Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah lebih dulu menyatakan penolakan terhadap konser Andrea Bocelli. MUI menegaskan sikapnya secara terbuka terkait rencana konser di Candi Borobudur dan JIExpo Jakarta tersebut.
MUI bahkan menyebut jika konser ini tetap digelar, hal itu bisa dimaknai sebagai bentuk melawan pemerintah dan konstitusi. Pernyataan itu menjadi salah satu sikap paling tegas dari lembaga keagamaan terkait rencana konser Bocelli di Indonesia.
Bergabungnya Muhammadiyah menambah daftar pihak yang menolak kehadiran Bocelli. Penolakan tidak lagi datang dari satu lembaga saja, melainkan dari organisasi keagamaan besar yang memiliki basis massa luas di Indonesia.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari penyelenggara maupun pihak Andrea Bocelli soal sikap Muhammadiyah dan MUI. Nasib dua jadwal konser pada akhir Oktober dan awal November 2026 itu masih menunggu perkembangan lebih lanjut.