JAMBI — Uji jalan Car and Driver menemukan Rivian R2 bermodel ban all-terrain 20 inci justru mencatat grip dan pengereman lebih baik dibanding versi ban jalanan 21 inci. Temuan ini menantang anggapan umum bahwa ban bergerigi selalu mengorbankan performa aspal. Harga R2 Performance AWD Launch Edition mulai USD 59.485, dengan opsi ban all-terrain menambah USD 1.000.
Rivian R2 Performance AWD Launch Edition yang diuji Car and Driver ini ditenagai motor ganda dengan tenaga gabungan 656 hp dan torsi 609 lb-ft, disokong baterai lithium-ion 88 kWh. Mobil ini berhasil melesat 0-60 mph dalam 3,4 detik dan menuntaskan seperempat mil dalam 11,3 detik pada kecepatan 128 mph.
Angka tersebut terbilang luar biasa untuk SUV listrik berbentuk kotak. Namun yang membuat pengujian ini menarik bukanlah akselerasinya, melainkan perilaku ban opsionalnya di aspal.
Umumnya ban all-terrain berkompromi pada cengkeraman aspal demi kemampuan off-road. Rivian R2 dengan ban BFGoodrich All-Terrain T/A+ membalik logika itu. Pada uji skidpad, mobil mencatat 0,84 g, lebih tinggi dari 0,81 g pada versi ban Pirelli Scorpion MS Elect 21 inci.
Selisihnya makin jelas saat pengereman. Dari 70 mph, R2 berban all-terrain berhenti dalam 166 kaki, sedangkan versi ban jalanan butuh 178 kaki. Dari 100 mph, jaraknya 320 kaki versus 363 kaki — selisih 43 kaki yang signifikan untuk kondisi darurat.
Pada akselerasi, versi all-terrain juga sedikit lebih cepat: 3,4 detik ke 60 mph berbanding 3,5 detik, dan 11,3 detik untuk seperempat mil berbanding 11,4 detik.
Kekhawatiran lain soal ban bergerigi adalah suara berisik di kabin. Hasil pengukuran Car and Driver menunjukkan keduanya sama-sama mencatat 67 desibel pada kecepatan jelajah 70 mph. Versi ban 21 inci tercatat 22 sones, versi all-terrain 23 sones — selisih yang praktis tidak terasa di telinga.
Menurut Car and Driver, kualitas berkendara versi ban 20 inci bahkan terasa sedikit lebih nyaman di punggung penguji.
Ban BFGoodrich All-Terrain T/A+ untuk R2 ternyata tidak identik dengan varian ritelnya. Sebagian besar ukuran ritel hanya memiliki rating kecepatan T (118 mph) atau H (130 mph), sedangkan versi Rivian mendapat rating V hingga 149 mph.
Selain itu, ban versi Rivian tidak menyandang label three-peak mountain snowflake (3PMSF) seperti varian lain, hanya rating M+S. Kedalaman tapak juga lebih dangkal, 10,5/32 inci dibanding 12,5/32 inci pada varian reguler. Perbedaan inilah yang diduga berkontribusi pada keunggulan performa aspalnya.
Kompromi terbesar ada di jarak tempuh. EPA mencatat range 330 mil untuk ban 21 inci dan 307 mil untuk ban all-terrain 20 inci. Pada uji highway 75 mph milik Car and Driver, selisihnya melebar: 260 mil berbanding 220 mil, atau berkurang 40 mil.
Bagi pengguna yang sering menempuh perjalanan jauh, selisih ini perlu dipertimbangkan matang. Namun untuk pemakaian harian campuran, tambahan jarak 40 mil jarang menjadi penentu utama.
Rivian R2 dengan ban all-terrain cocok untuk pemilik yang mengutamakan tampilan tangguh dan respons darurat di aspal, serta siap menukar sebagian jarak tempuh. Bagi yang menempuh perjalanan jauh rutin atau mengandalkan range maksimal, ban 21 inci tetap pilihan lebih rasional.
Car and Driver sendiri menyatakan akan memilih opsi all-terrain jika memesan R2, dengan alasan tampilan dan respons pengereman yang lebih baik. Catatan pentingnya, R2 belum dipastikan masuk pasar Indonesia, sehingga pembaca lokal perlu menunggu pengumuman resmi soal ketersediaan dan harga OTR.