JAMBI — Fenomena sosiolinguistik yang menarik terjadi di Provinsi Jambi, di mana kata ganti orang kedua “kamu” mengalami pergeseran makna drastis dari pengertian di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika di tingkat nasional kata ini kerap digunakan dalam pergaulan santai atau dari senior ke junior, di Jambi justru sebaliknya.
Dalam ilmu bahasa, fenomena ini disebut “ameliorasi”, yaitu pergeseran makna menjadi lebih terhormat atau lebih tinggi. Di Jambi, kata “kamu” atau variasinya seperti “kaut” dan “komu” tergantung sub-dialek wilayah, adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada orang yang dituakan.
Mengapa Kata “Kamu” Bisa Sakral di Jambi?
Menurut analisis Musri Nauli, seorang advokat yang juga pengamat budaya di Jambi, sistem sosiolinguistik di provinsi ini mengatur batasan tegas siapa yang boleh dan tidak boleh disapa dengan kata “kamu”. Kata ini mutlak tidak dapat digunakan untuk teman sebaya atau orang yang usianya lebih muda dari pembicara.
“Menggunakan kata ‘kamu’ kepada teman sebaya atau anak kecil di Jambi akan terdengar sangat aneh, kaku, bahkan bisa dianggap ‘salah tempat’,” tulis Musri dalam tulisannya yang dimuat di Jambiseru.com. Untuk lingkaran pertemanan sebaya atau yang lebih muda, masyarakat Jambi memiliki pronomina lain yang lebih tepat, seperti “kau”, “awak”, atau langsung menyebut nama.
Mirip Unggah-Ungguh Bahasa Jawa
Fenomena ini menciptakan hirarki bahasa yang mirip dengan konsep unggah-ungguh dalam bahasa Jawa atau undak-usuk dalam bahasa Sunda. Meskipun bahasa Melayu Jambi tidak mengenal tingkatan bahasa serumit itu, kata “kamu” menjadi instrumen praktis untuk menegaskan batas ruang horizontal (keakraban sebaya) dan vertikal (penghormatan ke atas).
Bagi masyarakat luar Jambi, hal ini sering kali memicu kesalahpahaman. Orang luar mengira kata “kamu” terkesan terlalu biasa atau kurang sopan untuk orang tua, padahal di Jambi, itulah cara terbaik untuk memuliakan lawan bicara yang lebih tua.
Pelajaran: Bahasa Tak Bisa Dibaca Hanya dari Kamus
Fenomena kebahasaan ini membuktikan bahwa menilik arti sebuah kata tidak bisa hanya bermodalkan kamus. “Bahasa adalah cerminan budaya,” tegas Musri Nauli. Bahasa Melayu Jambi berhasil memodifikasi fungsi kata “kamu” dari sekadar kata ganti jamak normatif versi KBBI, menjadi sebuah piranti adat yang sarat akan nilai penghormatan.
Kasus ini menunjukkan bahwa untuk memahami makna sesungguhnya dari suatu kata, seseorang harus terjun langsung memahami “rasa bahasa” dan denyut nadi kebudayaan masyarakat setempat. Apa yang dianggap biasa di satu daerah, bisa menjadi sangat sakral dan penuh tata krama di daerah lain.