JAMBI — Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, mulai dari kemarau panjang hingga hujan deras, kini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian di Kota Jambi. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Kota Jambi, Amiruddin, menyatakan pihaknya tidak bisa lagi mengandalkan pola tanam konvensional.
Varietas Unggul Jadi Andalan Hadapi Kekeringan dan Banjir
Pemerintah kota mendorong petani menggunakan benih varietas unggul yang dirancang khusus untuk bertahan di kondisi lingkungan ekstrem. “Penggunaan varietas unggul yang toleran terhadap kondisi lingkungan ekstrem dinilai menjadi solusi untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian,” kata Amiruddin di Jambi, Kamis.
Benih ini diyakini mampu beradaptasi dengan baik, baik saat pasokan air minim maupun saat genangan terjadi.
Teknologi Adaptif: Mulsa hingga Rumah Kaca
Selain benih, DPKP juga mengarahkan petani untuk menerapkan teknologi budidaya yang adaptif. Beberapa teknologi yang didorong antara lain penggunaan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah, pembangunan rumah kaca (green house) guna melindungi tanaman dari terik matahari atau hujan deras, serta sistem irigasi hemat air.
“Kami mengantisipasi anomali cuaca dengan menerapkan teknologi budidaya adaptif seperti mulsa, green house dan system irigasi hemat air,” ujar Amiruddin.
Percepatan Tanam dan Pengendalian Hama Diperketat
DPKP juga menerapkan strategi percepatan tanam di wilayah yang masih memiliki ketersediaan air memadai. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan masa tanam agar tanaman terhindar dari risiko cuaca yang tidak menentu.
Di sisi lain, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) diperkuat melalui pemantauan rutin bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT), penggunaan benih sehat bersertifikat, serta pemanfaatan agen hayati seperti Trichoderma terus didorong untuk menekan serangan hama.
“Kami juga menyiapkan sarana pengendalian OPT termasuk pestisida yang digunakan sesuai rekomendasi,” kata Amiruddin.