JAMBI — Momentum peringatan yang digelar di Balairung Sari Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, Selasa (16/6/2026), itu dihadiri Gubernur Jambi Al Haris, Ketua LAM Hasan Basri Agus, dan Ketua MUI KH M. Umar Yusuf. Doa yang dipanjatkan Rektor UIN STS Jambi menegaskan kembali falsafah “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” sebagai fondasi kehidupan masyarakat Melayu Jambi.
Isi Doa: Generasi yang Tidak Kehilangan Jati Diri
Dalam penggalan doanya, Prof. Kasful memohon agar masyarakat Jambi dijadikan generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tidak tercerai dari nilai agamanya, dan tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman. Pesan ini dinilai relevan dengan kondisi saat ini di mana arus informasi global begitu cepat diakses generasi muda melalui gawai.
Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa peringatan ini menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan persatuan masyarakat. “Semangat kebersamaan, kekompakan, dan persatuan harus terus dipelihara melalui kecintaan terhadap adat istiadat Melayu Jambi,” ujarnya.
Adat dan Agama: Dua Unsur yang Sulit Dipisahkan
Dalam sejarah masyarakat Melayu Jambi, adat dan agama telah berasimilasi sejak masuknya Islam berabad-abad lalu. Prinsip “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” tidak hanya mengatur hubungan sosial, tetapi juga menjadi dasar penyelesaian persoalan masyarakat, kehidupan keluarga, hingga tata pemerintahan adat.
Ketua LAM Provinsi Jambi, Hasan Basri Agus, menekankan bahwa peringatan Hari Adat Melayu Jambi merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat. Menurutnya, di tengah perubahan global, identitas budaya menjadi modal penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter dan berdaya saing.
Tantangan Pelestarian di Era Digital
Meski masih hidup di tengah masyarakat, pelestarian adat Melayu menghadapi tantangan serius. Urbanisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan pola hidup generasi muda membuat nilai-nilai tradisional berpotensi mengalami pergeseran. Tidak sedikit tradisi yang mulai jarang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, sebagian generasi muda kini mengenal budaya luar lebih dekat dibandingkan warisan budaya daerahnya sendiri. Dalam konteks inilah peran lembaga pendidikan, tokoh agama, dan lembaga adat menjadi sangat penting.
Pelestarian Tidak Cukup dengan Festival Tahunan
Rektor UIN STS Jambi mengingatkan bahwa pelestarian adat tidak cukup dilakukan melalui festival atau peringatan tahunan semata. Nilai-nilai adat harus hadir dalam pendidikan, lingkungan keluarga, serta kebijakan publik. Harapannya, adat tidak berhenti sebagai simbol atau tradisi seremonial, melainkan tetap hidup dalam perilaku masyarakat, sistem pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan.
Kemajuan teknologi dan pembangunan, menurut para tokoh yang hadir, tidak harus menghilangkan akar budaya. Keduanya dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai lokal yang telah diwariskan para leluhur. Komitmen menjadikan Hari Adat Melayu Jambi sebagai agenda tahunan pun memiliki makna lebih dari sekadar seremonial belaka.