JAMBI — Kecelakaan pertama terjadi di Kota Tomblaine, timur laut Prancis. Sebuah pesawat kecil yang membawa rombongan sekolah terjun payung jatuh beberapa detik setelah lepas landas dari Bandara Nancy-Essey. Seluruh 11 orang di dalamnya—satu pilot, lima instruktur, dan lima calon penerjun payung—dinyatakan tewas di tempat.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan kepada Reuters bahwa pesawat jatuh sekitar 300 meter dari landasan pacu. Lokasi kecelakaan berada di area yang cukup padat, dekat permukiman warga dan pusat perbelanjaan. Gubernur Yves Seguy menyebut insiden itu bisa menimbulkan dampak lebih besar jika pesawat menyimpang beberapa meter lagi.
Saksi Lihat Mesin Mati Mendadak
Seorang saksi mata melaporkan bahwa mesin pesawat tiba-tiba berhenti bekerja tak lama setelah lepas landas. Ia mengatakan tidak melihat api atau mendengar suara ledakan sebelum pesawat jatuh ke tanah. Otoritas penerbangan Prancis kini tengah menyelidiki penyebab teknis di balik kegagalan mesin tersebut.
Keluarga para calon penerjun payung disebut berada di bandara saat kecelakaan terjadi. Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan penerbangan sipil paling mematikan di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
Helikopter Aramco Jatuh Saat Tugas
Pada hari yang sama, sebuah helikopter milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, jatuh saat menjalankan tugas di kota pesisir Ras Tanura. Seluruh 14 orang di dalamnya tewas. Kantor berita negara Arab Saudi, mengutip Kementerian Energi, mengonfirmasi bahwa semua korban adalah warga negara Saudi.
Kecelakaan ini terjadi di tengah peningkatan aktivitas penerbangan yang melayani sektor minyak dan gas. Aramco baru saja melanjutkan operasi bongkar muat minyak mentah di Pelabuhan Ras Tanura setelah penangguhan hampir empat bulan. Selain itu, Arab Saudi tengah meningkatkan ekspor energi menjelang kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Investigasi Tak Temukan Kaitan dengan Operasi Tambang
Meskipun aktivitas penerbangan tengah meningkat, para pejabat Saudi bersikeras bahwa hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan kecelakaan itu terkait dengan operasi penambangan atau kondisi operasional di daerah tersebut. Pihak berwenang telah meluncurkan penyelidikan komprehensif untuk menentukan penyebab jatuhnya helikopter tersebut.
Dua tragedi beruntun ini menunjukkan bahwa keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, terlepas dari jenis penerbangannya—baik itu penerbangan pelatihan, transportasi khusus, maupun yang melayani operasi industri. Investigasi yang tengah berjalan di kedua negara akan menjadi kunci untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.