JAMBI — Bates membeli Chelsea pada 1982 hanya dengan harga £1 saat klub itu nyaris bangkrut dengan utang £1,5 juta. Dua dekade kemudian, ia menjual The Blues ke Roman Abramovich pada Juli 2003 dengan nilai £140 juta — sebuah transformasi finansial dan prestasi yang langka.
Dari Oldham ke Wembley: Perjalanan Panjang Bates
Karier Bates di sepak bola dimulai sebagai ketua Oldham Athletic di era 1960-an. Ia kemudian menjadi pemilik dan wakil ketua Wigan Athletic awal 1980-an sebelum mengambil alih Chelsea.
Setelah melepas Chelsea ke Abramovich, Bates membeli Leeds United pada Januari 2005. Masa kepemimpinannya di Elland Road juga tak kalah bergejolak hingga ia hengkang pada Juli 2013.
Di luar klub, Bates duduk di komite eksekutif FA dan menjadi figur kunci dalam proyek rekonstruksi Stadion Wembley. Ia diangkat sebagai ketua Wembley National Stadium Limited pada 1997, tapi mundur empat tahun kemudian karena mengklaim tidak mendapat dukungan dan progres terlalu lambat.
Pagar Listrik, Dana Tunai, dan Pemecatan Kontroversial
Bates tak pernah jauh dari kontroversi. Pada pertengahan 1980-an, ia memasang pagar listrik setinggi 12 kaki di Stamford Bridge untuk mencegah invasi suporter — tapi otoritas setempat menolak mengizinkannya dinyalakan dengan alasan keselamatan.
Di sisi lain, kecerdasan bisnisnya terbukti. Bates menjalankan skema Chelsea Pitch Owners, membagi kepemilikan tanah stadion dengan fans sehingga Stamford Bridge tidak lagi terancam diambil alih pengembang properti. Langkah ini disebut sama pentingnya dengan kesuksesan klub di lapangan.
Namun, sisi kerasnya juga terlihat saat ia memecat Ruud Gullit pada Februari 1998 — sang pelatih disebut mengetahui pemecatannya lewat Teletext. Vialli menggantikan dan membawa pulang Piala Winners UEFA serta Piala FA 2000.
Warisan di Stamford Bridge: Dari Bangkrut ke Panggung Eropa
Di bawah Bates, Chelsea berkembang dari klub yang menghitung penny menjadi magnet bintang Eropa. Ruud Gullit, Marcel Desailly, Gianluca Vialli, hingga Gianfranco Zola — pencetak gol kemenangan di final Piala Winners 1998 — semua datang pada era kepemimpinannya.
Bates juga merekrut pemain seperti Pat Nevin, Kerry Dixon, dan David Speedie yang mengangkat Chelsea kembali ke papan atas Liga Inggris. Dua Piala FA, satu Piala Liga, satu Piala Winners, dan satu Piala Super UEFA menjadi bukti nyata warisannya.
Meski kontroversial, Bates meninggalkan jejak yang tak terhapuskan: dari klub yang hampir mati menjadi kekuatan yang siap dijual dengan harga £140 juta. Ia wafat sebagai salah satu tokoh paling berwarna dalam sejarah sepak bola Inggris.