KUALA TUNGKAL — Lahan seluas beberapa hektare di dalam kompleks Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal kini berubah menjadi lumbung pangan produktif. Mulai dari kolam ikan patin berukuran besar, kandang bebek, hingga tanaman tebu dan pisang, semuanya dikelola langsung oleh warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
Hasil Panen Perdana: Ikan Patin Siap Pasok Pasar Lokal
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jambi, Dr. Irwan Rahmat Gumilar, mengungkapkan bahwa ikan patin yang baru berusia delapan bulan sudah mencapai bobot panen ideal. "Kita baru saja memanen ikan patin dengan hasil yang luar biasa. Padahal ikan ini baru berumur delapan bulan namun sudah siap panen dengan kondisi yang sangat sehat," ujarnya saat mendampingi Bupati Tanjab Barat, Drs. H. Anwar Sadar, M.Ag., di lokasi.
Menurut Irwan, total produksi ikan patin dari kolam SAE Lapas Kuala Tungkal mencapai sekitar 2 ton untuk satu siklus panen. Angka ini dinilai cukup untuk memenuhi permintaan pasar lokal di Kecamatan Kuala Tungkal dan sekitarnya.
Bukan Sekadar Panen, Tapi Bekal Keterampilan Warga Binaan
Bupati Anwar Sadar memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini. Ia menilai pola pembinaan yang diterapkan Lapas Kelas IIB tidak hanya membentuk karakter warga binaan, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan kerja nyata. "Kami sangat berterima kasih dan memberikan dukungan penuh terhadap program-program yang diselenggarakan Lapas, mulai dari peternakan, perikanan, hingga budidaya bebek," kata Anwar.
Bupati bahkan berencana mempercepat kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Daerah (SPPG) setempat. Jika terealisasi, seluruh instansi pemerintah di Tanjab Barat tidak perlu lagi mendatangkan sayuran, telur, dan ikan dari luar daerah. "Sehingga instansi pemerintah tidak perlu lagi mencari bahan pangan seperti sayuran, telur, ikan, dan kebutuhan lain dari tempat jauh, melainkan bisa mengambil langsung dari Lapas," tegasnya.
Warga Binaan Dapat Tabungan dari Hasil Panen
Kakanwil Irwan menambahkan, program ini memiliki dampak ganda. Selain melatih keterampilan bertani dan beternak, warga binaan juga mendapatkan bagian hasil produksi yang ditabung selama masa pembinaan. "Nanti saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi bingung mau bekerja apa. Selain mendapatkan pelatihan praktis, mereka juga menerima bagian hasil produksi sebagai tabungan, yang nantinya bisa dijadikan modal untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri," pungkasnya.
Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal saat ini mengembangkan berbagai komoditas, antara lain perikanan air tawar, peternakan bebek petelur, serta tanaman tebu dan pisang. Produksi telur bebek sendiri dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi internal lapas dan sebagian dijual ke masyarakat sekitar.
Sinergi Lapas dan Pemda Dorong Ketahanan Pangan Daerah
Kegiatan panen raya ini menjadi simbol konkret sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan pemerintah daerah. Irwan berharap program serupa bisa direplikasi di lapas-lapas lain di Provinsi Jambi. "Ini adalah bagian dari upaya ketahanan pangan yang membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam hal pemasaran, sehingga siklus ekonomi berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi," jelasnya.
Ke depan, Pemkab Tanjab Barat berencana memasukkan hasil produksi Lapas Kuala Tungkal ke dalam sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi warga binaan.