JAMBI — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% ke level 5.057 pada Jumat (30/10), membawa koreksi sepanjang pekan mencapai 7,03%. Analis memperkirakan tekanan masih berlanjut pada perdagangan sepekan ke depan dengan rentang support 4.907 dan resistance 5.317.
Koreksi tajam terjadi di hampir seluruh indikator perdagangan. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Elsierra Putri Yosita menyatakan kapitalisasi pasar bursa turun 7,52% dari Rp9.583 triliun menjadi Rp8.862 triliun pada periode 26-30 Oktober 2026.
Rata-rata nilai transaksi harian ikut menurun 29,49% dari Rp20,34 triliun menjadi Rp14,339 triliun. Rata-rata volume transaksi harian terkoreksi 18,85% dari 39,959 miliar menjadi 32,428 miliar lembar saham, sementara frekuensi transaksi turun 20,99% dari 1,95 juta menjadi 1,54 juta kali.
Investor Asing Masih Net Sell Rp138,71 Miliar
Pada perdagangan Jumat (30/10), investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp138,71 miliar. Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell asing sudah mencapai Rp97,921 triliun.
"Adapun pada perdagangan Jumat (30/10), investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp138,71 miliar," kata Elsierra dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).
Dalam sepekan terakhir, indeks melemah selama empat hari perdagangan. Nilai transaksi pekan lalu tercatat Rp11,65 triliun dengan jumlah saham diperdagangkan 37,62 miliar saham.
Tekanan Rupiah dan Yield Obligasi Jadi Pemberat
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pelemahan rupiah hingga Rp18.170 per dolar AS dan yield obligasi pemerintah 10 tahun di 7,71%—tertinggi sejak Mei 2020—memperbesar risiko capital outflow.
Dari sisi domestik, pasar mencermati rilis inflasi Oktober 2026 yang diperkirakan 3,3% secara year-on-year dan PMI manufaktur di level 51,9. Data PDB kuartal III 2026 yang diproyeksi melambat ke 5% disebut berpotensi memberi sentimen negatif.
"Rilis data PDB kuartal III 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 5 persen secara tahunan berpotensi memberikan sentimen negatif bagi pasar," kata Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (1/11).
Kebijakan HSC dan MSCI Review Jadi Katalis Pekan Ini
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan support 4.907 dan resistance 5.317. Implementasi kebijakan komite pengawasan khusus (HSC) pada 2 November 2026 akan mengeluarkan emiten kategori HSC dari formulasi perhitungan IHSG.
Sentimen eksternal datang dari pemilihan paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat dan peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada pekan berikutnya.
"Sentimen yang akan memengaruhi pergerakan IHSG antara lain implementasi kebijakan HSC pada 2 November 2026, serta rilis data PMI, inflasi, dan PDB Indonesia," kata Herditya.
Rekomendasi Saham: MEDC, INDF, EXCL, dan TAPG
Oktavianus merekomendasikan MEDC yang ditutup menguat 3,73% ke 1.390 pekan lalu dengan proyeksi ke level 1.530. Saham INDF ditutup naik 1,99% ke 6.400 dan diproyeksikan menyentuh 6.750 pekan ini.
Herditya menyoroti saham EXCL, MEDC, dan TAPG sebagai pilihan yang bisa dicermati investor. Ia memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Senin (2/11) di rentang support 4.970 dan resistance 5.185 versi Kiwoom.
Kedua analis sepakat pasar masih dibayangi tekanan eksternal dan domestik. Investor diminta mencermati data makro yang rilis pekan ini sebelum mengambil posisi.