MUARO JAMBI — Al Haris menilai selama ini upaya pencegahan karhutla kerap dipersepsikan sebagai tugas eksklusif Satgas Karhutla, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Padahal, mahasiswa yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat memiliki potensi besar untuk mengedukasi warga dari akar rumput.
Mengapa Mahasiswa Dianggap Kunci Pencegahan Karhutla?
Gubernur menyebut program Kuliah Kerja Nyata (KKN), praktik lapangan, hingga momen mahasiswa pulang ke kampung halaman menjadi celah strategis untuk menyebarkan pemahaman tentang bahaya kebakaran gambut. "Selama ini kita merasakan agenda pencegahan karhutla seolah-olah hanya dilakukan oleh pihak tertentu, padahal ada anak-anak kita, para mahasiswa, yang juga terlibat langsung di masyarakat," ujarnya.
Menurut Al Haris, edukasi kepada masyarakat justru lebih efektif daripada sekadar mengandalkan kesiapan petugas di lapangan. Pencegahan sejak awal dinilai jauh lebih murah dan tidak berisiko dibandingkan pemadaman saat api sudah membesar.
Dampak Karhutla: dari ISPA hingga Gangguan Transportasi
Gubernur mengingatkan bahwa karhutla bukan sekadar masalah lingkungan. Asap kebakaran telah terbukti memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), melumpuhkan aktivitas sekolah, hingga mengganggu jalur transportasi udara dan darat di Jambi. "Kalau sudah terjadi kebakaran, luar biasa sulit memulihkannya. Kadang-kadang berhari-hari api di gambut baru bisa dipadamkan. Jangkauannya jauh, SDM terbatas, alat juga terbatas," kata dia.
Gambut Bukan Lahan Tak Berguna: Penyimpan Karbon Raksasa
Al Haris menyoroti masih banyaknya anggapan keliru bahwa lahan gambut tidak bermanfaat. Padahal, ekosistem gambut berperan vital sebagai penyimpan karbon dan penyangga lingkungan. Untuk membangun pemahaman ini sejak dini, Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya telah meluncurkan modul pembelajaran tentang hutan gambut untuk siswa SMA dan SMK.
Ia berharap kuliah umum ini menjadi langkah konkret untuk menyatukan persepsi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat. "Pencegahan jauh lebih baik dibandingkan penanganan saat api sudah membesar," tegasnya.