Pencarian

Ziarah ke Makam Bung Karno hingga Soeharto, Kapolri Sebut Tradisi Serap Nilai Kepemimpinan Jelang HUT Bhayangkara

Sabtu, 20 Juni 2026 • 19:37:01 WIB
Ziarah ke Makam Bung Karno hingga Soeharto, Kapolri Sebut Tradisi Serap Nilai Kepemimpinan Jelang HUT Bhayangkara
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Presiden Soekarno di Blitar, Jawa Timur.

JAMBI — Ziarah ke makam Presiden pertama RI Ir Soekarno di Kota Blitar, Jawa Timur, menjadi agenda kedua Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo setelah sebelumnya mengunjungi makam Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (20/6/2026).

Empat Titik Ziarah Jelang HUT Bhayangkara

Dalam keterangannya, Sigit menyebutkan rangkaian ziarah tidak berhenti di Blitar. Setelah dari makam Bung Karno, ia akan melanjutkan perjalanan ke makam Presiden Soeharto, dan menutup rangkaian di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

"Setelah ini kami akan melanjutkan ke makam Bapak Presiden Soeharto dan selanjutnya akan kami tutup ke Taman Makam Pahlawan Kalibata," kata Sigit.

Makna di Balik Tradisi Tahunan Polri

Sigit menjelaskan, tradisi ziarah ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya institusi untuk menggali nilai-nilai kepemimpinan dari para pendiri bangsa. Ia menilai hal tersebut krusial bagi pembenahan internal Korps Bhayangkara ke depan.

"Rangkaian kegiatan yang kami laksanakan kali ini merupakan bagian dari tradisi kami untuk bisa menyerap dan tentunya menggali nilai-nilai dari para pemimpin bangsa yang tentunya ini sangat penting khususnya bagi institusi Polri," ujar Kapolri.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Sigit telah berziarah ke makam Gus Dur. Dua tokoh nasional tersebut dipilih sebagai representasi dari nilai-nilai pluralisme dan nasionalisme yang ingin diinternalisasi Polri. Pemilihan waktu ziarah yang berdekatan dengan Hari Bhayangkara ke-80 memperkuat sinyal bahwa kegiatan ini menjadi agenda prioritas pimpinan.

Konteks Kelembagaan dan Citra Polri

Langkah Kapolri menyambangi makam para mantan presiden dari lintas rezim—dari Orde Lama, Reformasi, hingga Orde Baru—dapat dibaca sebagai upaya merawat simbol netralitas dan kebangsaan institusi. Di tengah berbagai tantangan kepercayaan publik, tradisi ini kerap digunakan untuk menegaskan kembali komitmen Polri terhadap nilai-nilai Pancasila.

Belum ada pernyataan resmi dari istana atau pihak keluarga terkait rangkaian ziarah ini. Namun, berdasarkan pola kegiatan serupa di tahun-tahun sebelumnya, tradisi ini biasanya diikuti dengan apel korps dan bakti sosial di berbagai daerah dalam rangkaian HUT Bhayangkara yang puncaknya jatuh pada 1 Juli.

Bagikan
Sumber: nasional.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks