Transformasi Ekonomi Jambi Terhambat Pola Ekstraktif, Hilirisasi dan Tata Kelola SDA Berkelanjutan Jadi Kunci

Penulis: Khairunas Ibrahim  •  Senin, 18 Mei 2026 | 10:41:12 WIB
Aktivitas ekonomi ekstraktif di Jambi menyebabkan kerusakan infrastruktur dan biaya sosial yang meningkat.

JAMBI — Provinsi Jambi selama ini bertumpu pada kekayaan sumber daya alam seperti perkebunan sawit, karet, batu bara, migas, dan hasil hutan. Sektor pertanian, kehutanan, perikanan, perdagangan, serta pertambangan masih mendominasi struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Namun, model pembangunan yang terlalu ekstraktif justru memunculkan biaya sosial yang besar.

Salah satu contoh nyata adalah kerusakan jalan akibat angkutan batu bara. Aktivitas ekonomi yang seharusnya mendorong kesejahteraan malah menimbulkan infrastruktur rusak, biaya logistik membengkak, mobilitas warga terganggu, dan risiko kecelakaan meningkat. Masyarakat menjadi pihak yang paling banyak menanggung dampak sosial dari aktivitas ekonomi tersebut.

Paradoks Pembangunan Berbasis SDA

Fenomena di Jambi menunjukkan bahwa kekayaan alam belum sepenuhnya diubah menjadi kesejahteraan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi memang tercipta, tetapi manfaatnya belum merata. Ketimpangan wilayah, konflik agraria, dan lemahnya transformasi ekonomi masih menjadi tantangan utama pembangunan daerah.

Selama bertahun-tahun, pembangunan ekonomi bergerak dalam pola mengambil sumber daya alam sebanyak mungkin untuk mengejar pertumbuhan jangka pendek. Keberhasilan pembangunan sering diukur dari angka pertumbuhan semata, sementara kualitas lingkungan dan pemerataan kesejahteraan kurang mendapat perhatian.

Hilirisasi dan Diversifikasi Ekonomi Jadi Agenda Mendesak

Rendahnya hilirisasi industri di Jambi menjadi persoalan serius. Komoditas unggulan seperti sawit, karet, dan batu bara sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Akibatnya, nilai tambah ekonomi lebih banyak mengalir keluar daerah, sementara kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB masih terbatas.

Ketergantungan tinggi pada komoditas primer membuat ekonomi daerah sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga batu bara atau sawit turun di pasar internasional, pertumbuhan ekonomi daerah ikut melambat. Kondisi ini terlihat pada Triwulan I 2026 ketika perlambatan ekonomi global mulai menekan beberapa sektor ekonomi di Jambi.

Tekanan Eksternal dan Perlunya Transformasi

Ketidakpastian global, konflik geopolitik, tingginya suku bunga, dan volatilitas harga komoditas memberikan tekanan terhadap daerah berbasis SDA seperti Jambi. Karena itu, pembangunan ekonomi ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek.

Pemerintah daerah perlu mendorong investasi pada sektor pengolahan sawit, karet, pinang, dan produk turunan hasil pertanian lainnya. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat UMKM lokal, meningkatkan daya saing, dan memperluas basis industri.

Selain hilirisasi, diversifikasi ekonomi juga menjadi kebutuhan mendesak agar Jambi tidak lagi bergantung pada satu atau dua komoditas utama. Pembangunan harus diarahkan pada transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan memiliki nilai tambah tinggi.

Reporter: Khairunas Ibrahim
Sumber: makalamnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top