JAMBI — Getaran terkuat dengan skala intensitas III-IV MMI dilaporkan oleh warga di Kabupaten Majene, Polewali Mandar, dan Kota Pare-pare. Pada skala ini, guncangan dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk berat melintas, dan cukup untuk membangunkan orang yang sedang tidur.
BMKG juga mendeteksi rambatan getaran dengan intensitas lebih rendah, yakni II-III MMI, meluas hingga ke Kabupaten Sidrap, Mamuju, Pangkep, Gowa, dan Kota Makassar. Artinya, getaran dirasakan oleh beberapa orang di dalam rumah, terutama yang sedang duduk atau beristirahat, namun belum menimbulkan kerusakan.
Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa berada di koordinat 3.75 derajat Lintang Selatan dan 119.05 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut sejauh 50 kilometer arah selatan dari Polewali Mandar. Dengan kedalaman hiposenter 13 kilometer, gempa ini masuk kategori dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng di selatan Sulawesi.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan bahwa parameter gempa ini sengaja diteruskan ke masyarakat luas. "Kami mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan serta berhati-hati terhadap potensi adanya gempa bumi susulan yang mungkin terjadi," tulisnya dalam keterangan resmi yang dirilis Kamis pagi.
Hingga pukul 10.00 WITA, BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan. Namun, instansi tersebut tetap memonitor perkembangan secara real-time melalui jaringan seismograf yang tersebar di Sulawesi.
Sulawesi Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat seismisitas tinggi di Indonesia. Pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di Laut Flores dan Laut Banda kerap memicu gempa dangkal hingga menengah di kawasan ini.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak panik namun tetap siaga. Jika terjadi guncangan susulan yang lebih kuat, warga diimbau segera berlindung di bawah meja kokoh atau keluar bangunan menuju titik kumpul yang aman dari reruntuhan. Informasi resmi hanya bersumber dari kanal BMKG, bukan dari berita yang tidak dapat diverifikasi.