JAMBI — Dulu, mengganti baterai HP yang mengembung atau soak tinggal buka penutup belakang, copot baterai, dan pasang yang baru. Kini, hampir semua ponsel flagship hingga kelas menengah hadir dengan baterai tanam yang tidak bisa dibongkar-pasang oleh pengguna. Perubahan desain ini memang bikin banyak pihak nostalgia, tapi produsen punya alasan struktural yang kuat di balik keputusan tersebut.
Alasan paling mendasar adalah tuntutan desain. Baterai tanam memungkinkan produsen merakit ponsel dengan rangka yang lebih rapat, tanpa perlu engsel atau mekanisme kait pada penutup belakang. Hasilnya, ketebalan bodi bisa ditekan hingga di bawah 8 mm tanpa mengorbankan kapasitas baterai.
Selain itu, material kaca dan logam yang kini lazim di ponsel kelas menengah ke atas tidak bisa didesain dengan penutup belakang yang bisa dilepas-pasang tanpa risiko retak atau longgar. Produsen memilih estetika dan build quality yang solid dibanding kemudahan akses baterai.
Standar IP67 atau IP68 yang menjamin ponsel tahan cipratan hingga terendam air sedalam 1 meter selama 30 menit hampir mustahil diraih dengan baterai yang bisa dilepas. Setiap celah pada bodi, termasuk penutup belakang yang bisa dibuka, menjadi titik lemah masuknya air dan debu.
Dengan baterai tanam, produsen bisa menempelkan seluruh komponen internal dengan perekat kedap air dan menutup bodi secara permanen. Konsekuensinya, pengguna memang kehilangan fleksibilitas mengganti baterai sendiri, tapi mendapatkan perlindungan yang dulu hanya ada di ponsel rugged.
Konsekuensi paling terasa bagi konsumen adalah biaya perbaikan. Untuk mengganti baterai tanam, pengguna harus membawa ponsel ke service center resmi karena prosesnya membutuhkan pemanasan lem perekat, pembukaan layar atau penutup belakang dengan alat khusus, dan pemasangan ulang yang presisi. Biaya jasa plus komponen biasanya berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 600 ribu tergantung merek dan model.
Namun, sisi positifnya, baterai tanam memungkinkan produsen memasang sel baterai berkapasitas lebih besar dalam ruang yang sama. Ponsel masa kini rata-rata membawa baterai 4.500 mAh hingga 5.000 mAh, angka yang sulit dicapai di era baterai swappable dengan bobot yang sama.
Beberapa produsen seperti Samsung dan Apple sudah menunjukkan bahwa baterai tanam adalah standar yang tidak akan berubah di lini flagship. Regulasi Uni Eropa yang mendorong hak perbaikan (right to repair) memang mendorong produsen membuat baterai lebih mudah diganti, tetapi itu lebih ke arah kemudahan di bengkel resmi, bukan untuk konsumen di rumah.
Di Indonesia, tren ponsel dengan baterai tanam sudah dominan sejak 2018. Beberapa merek entry-level masih menyediakan baterai lepas, tapi jumlahnya terus menyusut. Bagi pengguna yang mengutamakan kemudahan servis mandiri, opsi terbaik saat ini adalah memilih ponsel dengan garansi resmi yang mencakup penggantian baterai gratis dalam periode tertentu.
Kesimpulannya, hilangnya baterai yang bisa dilepas adalah trade-off yang harus dibayar untuk mendapatkan ponsel yang lebih tipis, lebih tahan air, dan berkapasitas baterai lebih besar. Selagi produsen belum menemukan cara membuat baterai swappable tanpa mengorbankan ketahanan bodi, pengguna harus siap merogoh kocek lebih untuk servis baterai di masa depan.