Skrining Kesehatan Jiwa Ibu Hamil Kini Wajib, Ini Jadwal dan Manfaatnya

Penulis: Ramli Ahmad  •  Senin, 07 September 2026 | 11:36:01 WIB
Seorang tenaga kesehatan melakukan skrining kesehatan jiwa pada ibu hamil sebagai bagian dari standar pelayanan Antenatal Care (ANC) 12T.

JAMBI — Menjadi ibu adalah perjalanan besar yang tidak hanya mengubah fisik, tetapi juga kondisi emosional. Menyadari hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi memperkuat layanan skrining kesehatan jiwa untuk ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan. Kebijakan ini merupakan bagian penting dari upaya nasional menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia.

Apa Itu Skrining Kesehatan Jiwa dan Kapan Dilakukan?

Skrining kesehatan jiwa bukanlah pemeriksaan yang rumit. Ibu cukup menjawab beberapa pertanyaan sederhana yang diberikan oleh bidan atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan ini menjadi salah satu komponen wajib dalam standar pelayanan Antenatal Care (ANC) yang kini dikenal dengan istilah 12T.

Menurut dr. Hany Zahro, Tim Kerja Maternal Neonatal Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, skrining ini dijadwalkan sebanyak dua kali selama masa kehamilan. Pertama, dilakukan pada kunjungan pertama (K1) saat ibu mulai memeriksakan kehamilannya. Kedua, diulang kembali pada kunjungan kelima (K5).

Tidak berhenti di situ, pemeriksaan serupa juga akan dilakukan kembali pada masa nifas, tepatnya di hari ke-8 hingga ke-28 setelah persalinan. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner standar internasional bernama Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS).

Mengapa Skrining Jiwa Penting untuk Ibu Hamil?

Kesehatan mental ibu sangat berpengaruh pada keselamatan janin dan proses persalinan. Kondisi stres atau depresi yang tidak terdeteksi bisa memicu berbagai komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia dan anemia. Deteksi dini melalui skrining ini memungkinkan tenaga kesehatan untuk segera memberikan intervensi yang tepat.

“Untuk pilar yang pertama, kita ingin menguatkan skrining layak hamil-nya. Kemudian ANC yang berkualitas,” jelas Hany dalam Workshop Diseminasi Program BUNDA di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Dengan begitu, risiko komplikasi bisa diminimalisir dan persalinan yang aman pun lebih terjamin.

Dukungan Nyata untuk Bidan dan Kader di Lapangan

Meski prosedurnya sudah jelas, Kemenkes mengakui masih ada tantangan di lapangan. Tidak sedikit tenaga kesehatan yang merasa kurang percaya diri untuk melakukan sesi skrining kesehatan jiwa ini. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi bidan dan kader menjadi prioritas utama.

“Tadi saya sambil bisik-bisik juga sama Bu Putri, katanya masih banyak yang belum PD (percaya diri) untuk melakukan skrining kesehatan jiwa,” ungkap Hany. Pelatihan yang berkelanjutan dinilai krusial agar hasil skrining bisa ditindaklanjuti dengan tepat, terutama jika ditemukan ibu yang membutuhkan penanganan psikologis lebih lanjut.

Program BUNDA: Harapan Baru dari Nusa Tenggara Timur

Kebijakan pemerintah ini diperkuat dengan hadirnya praktik baik dari Program BUNDA (Bersama Mendukung Ibu Sehat dan Bahagia). Program yang dikembangkan oleh Yayasan Balita Sehat Indonesia (FMCH Indonesia) ini berfokus pada pendampingan psikososial berbasis komunitas dengan melibatkan bidan dan kader posyandu.

Program ini telah diuji coba pada Januari hingga Juni 2026 di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Hasilnya cukup menggembirakan. Dari 435 ibu hamil dan pasca-melahirkan yang didampingi, terjadi penurunan sekitar 10 persen pada jumlah partisipan yang menunjukkan gejala awal stres dan depresi.

Ketua Yayasan Balita Sehat, Syifa Andina, berharap model pendampingan ini bisa direplikasi di daerah lain. “Cita-cita kami adalah agar manfaat layanan ini dapat dirasakan oleh semakin banyak ibu di Indonesia,” ujarnya. Pendekatan ini juga membuka ruang keterlibatan suami dan keluarga, seperti terlihat dari mulai banyaknya suami yang mengantar istri ke Posyandu.

Peran Keluarga Menjadi Kunci Keberhasilan

Kesehatan jiwa ibu bukan hanya tanggung jawab tenaga medis. Lingkungan keluarga, terutama suami, memiliki peran besar dalam memberikan dukungan emosional. Kemenkes pun mengajak kolaborasi lintas sektor, mulai dari akademisi, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), hingga psikolog klinis untuk memperkuat edukasi keluarga dan jejaring layanan kesehatan jiwa di tingkat dasar.

Dengan adanya skrining ini, diharapkan setiap ibu mendapatkan pendampingan yang holistik, tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga kuat secara mental. Persiapan yang matang sejak awal kehamilan adalah langkah pertama untuk menyambut kelahiran buah hati dengan bahagia.

Reporter: Ramli Ahmad
Sumber: elshinta.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top