Kopi Robusta Bukit 30 Tebo Tampil di Pesta Rakyat Kopi Kointji 2026, Angkat Cerita Konservasi Hutan Jambi

Penulis: Ramli Ahmad  •  Rabu, 16 September 2026 | 22:53:01 WIB
Kontingen Kopi Robusta Bukit 30 Tebo tampil di Pesta Rakyat Kopi Kointji 2026.

TEBO — Kopi Robusta Bukit 30 Tebo hadir di Festival Pesta Rakyat Kopi Kointji 2026 sebagai bukti bahwa pengembangan ekonomi masyarakat dapat selaras dengan upaya menjaga fungsi ekologis bentang alam. Festival yang diinisiasi Koperasi ALKO bersama para mitra itu dirancang sebagai ruang temu seluruh ekosistem kopi, mulai dari petani, pengolah, roastery, barista, hingga pelaku industri dan komunitas.

Kontingen Tebo tidak sekadar membawa biji kopi ke ajang tersebut. Mereka juga membawa cerita konservasi dari area hulu, bagian yang selama ini jarang tersorot dalam rantai perdagangan komoditas.

Kopi Sepayung Robusta Jadi Identitas Baru Kopi Tebo

Kepala Bagian Program dan Manajemen Sepayung Tebo, Shahril RA Permata, menyebut Kabupaten Tebo kini punya identitas kopi tersendiri. Identitas itu dikemas dalam nama Kopi Sepayung Robusta.

"Alhamdulillah, Kabupaten Tebo sudah punya identitas kopi tersendiri bernama 'Kopi Sepayung Robusta'. Kehadiran Kopi Robusta Bukit 30 Tebo di festival ini membuktikan bahwa kopi kita siap masuk ke segmen pasar yang lebih luas," ungkap Shahril.

Melalui partisipasi di Pesta Rakyat Kopi Kointji 2026, Kopi Robusta Bukit 30 Tebo memperoleh wadah untuk memperkuat identitas produk atau origin. Ajang itu juga menjadi tempat uji kualitas melalui cupping sekaligus membuka akses jaringan pasar yang berkelanjutan.

Bukit 30 dan Pola Budidaya Kopi Berbasis Lanskap

Perwakilan panitia sekaligus Dewan Kopi Jambi, Ediyanto, menilai industri kopi masa depan mensyaratkan keseimbangan antara aspek bisnis dan kelestarian lingkungan. Ia menyampaikan hal itu saat mendampingi CEO PT Alko Sumatra Kopi, Suryono.

"Kopi bukan hanya berbicara tentang komoditas dan perdagangan. Di dalamnya ada petani, ada lanskap, ada hutan, dan masa depan generasi berikutnya. Peluang pengembangan kopi harus kita dorong bersamaan dengan semangat konservasi," tegas Ediyanto.

Kawasan bernilai ekologis tinggi seperti area Bukit 30, menurut Ediyanto, dapat dioptimalkan ekonomi kerakyatannya lewat budidaya kopi berbasis lanskap. Pola itu memberi nilai tambah bagi kesejahteraan petani tanpa merusak tutupan lahan dan fungsi vegetasi hutan.

Siapa Saja yang Dipertemukan di Festival Ini

Kolaborasi dalam festival mempertemukan tiga kebutuhan sekaligus. Petani membutuhkan pasar, industri membutuhkan suplai berkualitas, dan lingkungan membutuhkan pengelolaan hutan yang lestari.

Rangkaian itu menjelaskan posisi Kopi Robusta Bukit 30 Tebo. Produk ini tidak hanya bersaing di sisi rasa dan kualitas biji, tetapi juga membawa narasi asal-usul yang melekat pada lanskap tempat kopi ditanam.

Bagi petani di sekitar Bukit 30, kehadiran identitas produk yang jelas membuka peluang harga jual lebih baik. Pembeli di segmen lebih luas umumnya menilai kopi dari kejelasan asal, konsistensi mutu, dan cara budidaya.

Langkah Lanjutan Setelah Festival

Partisipasi di Pesta Rakyat Kopi Kointji 2026 menjadi titik awal bagi Kopi Robusta Bukit 30 Tebo untuk masuk ke jaringan pasar yang lebih luas. Penguatan identitas produk dan hasil uji kualitas menjadi modal utama menghadapi persaingan kopi daerah.

Pendekatan berbasis lanskap yang didorong Dewan Kopi Jambi menempatkan konservasi bukan sebagai penghambat produksi. Sebaliknya, kelestarian tutupan lahan di area hulu menjadi penopang keberlanjutan pasokan kopi Tebo dalam jangka panjang.

Reporter: Ramli Ahmad
Sumber: lingkaranistana.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top