Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi mengembangkan program padat karya di Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Narkotika Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, melalui budi daya ikan, peternakan ayam petelur, dan pengolahan arang batok kelapa. Produk arang batok kelapa dari lapas itu bahkan telah menembus pasar ekspor ke China dan Arab Saudi, dengan pengiriman perdana 6,8 ton senilai Rp74 juta pada Senin (24/8). Program ini membekali warga binaan dengan keterampilan praktis sebagai modal kembali ke masyarakat.
MUARA SABAK — Kepala Kanwil Ditjenpas Jambi Irwan Rahmat Gumilar meninjau langsung kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) milik Lapas Narkotika Muara Sabak, Rabu. Kawasan itu kini difungsikan sebagai pusat produksi yang melibatkan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di sejumlah sektor usaha.
Budidaya ikan, peternakan ayam petelur, dan pengolahan arang batok kelapa menjadi tiga lini utama program padat karya. Irwan menyebut keterampilan yang diperoleh WBP menjadi modal konkret saat mereka kembali ke tengah masyarakat.
"Melalui budi daya ikan, peternakan ayam petelur, hingga pengolahan arang batok kelapa, kita tidak hanya mendorong produktivitas, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat," kata Irwan dalam kunjungan tersebut.
Arang Batok Kelapa Tembus Pasar China dan Arab Saudi
Produk arang batok kelapa menjadi komoditas unggulan Lapas Narkotika Muara Sabak. Produk ini telah menembus pasar ekspor ke China dan Arab Saudi, dengan ekspor perdana sebanyak 6,8 ton pada Senin (24/8). Nilai taksiran pengiriman itu mencapai Rp74 juta.
Proses pengiriman sepenuhnya melibatkan perusahaan pihak ketiga. Seluruh arang yang dihasilkan dibeli perusahaan penampung asal Jakarta sebelum dikirim ke negara tujuan.
Ide pengembangan produk ini berangkat dari potensi sumber daya alam lokal di sektor perkebunan kelapa yang melimpah. Lapas kemudian mengembangkan produk turunan berupa arang dari batok kelapa.
Keuntungan Penjualan Kembali ke Keluarga Warga Binaan
Hasil penjualan arang tidak masuk ke kas lapas. Keuntungan dikembalikan sepenuhnya untuk keluarga warga binaan, setelah dipotong biaya produksi, premi untuk pekerja, dan setoran penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Skema itu menjadikan program padat karya bukan hanya sarana pembinaan keterampilan, tetapi juga sumber penghasilan bagi keluarga WBP selama masa pembinaan.
SAE Jadi Kawasan Edukasi dan Produksi Berkelanjutan
Kepala Lapas Narkotika Muara Sabak M Askari Utomo menyatakan program padat karya merupakan bentuk komitmen mengoptimalkan kawasan SAE sebagai sarana edukasi dan produksi yang berkelanjutan. Pengembangan dilakukan melalui program inovatif berbasis pangan dan olahan bernilai ekonomi tinggi.
"Selain perikanan dan peternakan, kami terus mengembangkan pengolahan arang batok kelapa yang alhamdulillah produknya sudah berhasil dipasarkan ke luar negeri. Kami akan terus menjaga kualitas produk ini," ujar Askari.
Askari berharap jajaran unit pelaksana teknis (UPT) Pemasyarakatan terus melahirkan warga binaan yang mandiri, terampil, dan siap berintegrasi kembali secara positif di tengah masyarakat.
Potensi Pangan Lokal Jadi Basis Pembinaan
Program padat karya di Muara Sabak dirancang untuk mendongkrak potensi pangan lokal sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan. Pemanfaatan lahan produktif di kawasan SAE menjadi tulang punggung kegiatan ini.
Warga binaan terlibat langsung dalam setiap tahap produksi, mulai dari penebaran benih ikan, perawatan ayam petelur, hingga pembuatan arang batok kelapa. Keterampilan praktis di berbagai sektor itu menjadi bekal yang bisa langsung diterapkan setelah masa pidana berakhir.