Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 24,30 poin atau 0,38 persen ke posisi 6.436,85 pada Rabu sore, saat pelaku pasar bersikap wait and see menantikan hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat The Fed. Indeks LQ45 turun 3,80 poin atau 0,58 persen ke posisi 646,96. Peluang kenaikan suku bunga The Fed 25 basis poin menurut CME FedWatch meningkat menjadi 92 persen pada pertemuan 15-16 September 2026.
JAKARTA — Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut IHSG bergerak mixed menantikan kebijakan moneter The Fed. "IHSG bergerak mixed menantikan kebijakan moneter The Fed," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dibuka melemah, IHSG sempat bergerak ke teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, indeks kembali masuk zona merah hingga penutupan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor menguat dipimpin sektor industri yang naik 1,19 persen. Sektor barang konsumen primer menyusul dengan kenaikan 0,10 persen.
Sembilan sektor melemah, dengan sektor teknologi turun paling dalam 1,20 persen. Sektor infrastruktur dan barang konsumen non primer masing-masing turun 1,18 persen dan 1,01 persen.
Saham dengan penguatan harga terbesar yaitu MGNA, UANG, VISI, VAST, dan YULE. Adapun pelemahan terbesar dialami INTD, SAPX, DEFI, BKDP, dan FILM.
Frekuensi perdagangan saham tercatat 1.840.000 kali transaksi dengan 23,77 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp12,24 triliun. Sebanyak 213 saham naik, 456 saham menurun, dan 293 tidak bergerak nilainya.
Ratna menyebut bursa kawasan Asia bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Pergerakan itu seiring koreksinya harga minyak mentah global setelah secara tidak terduga persediaan minyak mentah AS meningkat menjadi 7,14 juta barel pada pekan lalu.
Imbal hasil obligasi global juga cenderung stabil menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan implementasi batas minimum harga saham yang diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham pada 28 September 2026.
Pasar juga menantikan implementasi transaksi short selling yang efektif berlaku pada Oktober 2026. Daftar Efek Short Selling akan dirilis pada 28 September 2026.
Indeks Nikkei menguat 0,78 persen ke 63.982,00, indeks Shanghai menguat 0,71 persen ke 3.891,60. Indeks Hang Seng menguat 0,19 persen ke 24.713,78 dan Kospi menguat 1,37 persen ke 6.717,97.
Indeks Straits Times melemah 0,06 persen ke 5.635,41.