Kebutuhan SDM Industri Hijau Belum Terpenuhi, Proyek PLTS 100 GW Terganjal Skill Gap

Penulis: Ramli Ahmad  •  Rabu, 30 September 2026 | 10:50:31 WIB
Ketua PKET Sim Budiman Setiawan menyampaikan hasil pemetaan kebutuhan tenaga kerja proyek PLTS 100 GW dalam Evolution Indonesia Forum 2026, Rabu (30/9).

JAMBI — Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET) menilai kesenjangan keterampilan antara kebutuhan industri hijau dan ketersediaan SDM dalam negeri masih terjadi. Kondisi ini terungkap saat pembangunan proyek PLTS 100 GW yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto. Tanpa sinergi pendidikan dan industri, target transisi energi berisiko melambat.

Chairman PKET Sim Budiman Setiawan mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan kebutuhan tenaga kerja untuk proyek strategis tersebut. Namun, hasil pemetaan justru menunjukkan adanya jurang kompetensi yang belum teratasi.

"Kami dapat mendapatkan data demand mapping yang kami adakan untuk (pembangunan proyek) PLTS sebenarnya skill gap masih terjadi," ujarnya dalam acara Evolution Indonesia Forum 2026, Rabu (30/9).

Sinergi Pendidikan dan Industri Jadi Kunci

Sim menilai persoalan utama bukan sekadar jumlah lulusan yang dihasilkan institusi pendidikan. Yang lebih krusial adalah sejauh mana kompetensi mereka selaras dengan kebutuhan riil di lapangan.

PKET telah mengumpulkan pelaku industri hijau untuk memetakan kebutuhan spesifik masing-masing sektor. Dari situ, mereka menyusun model pelatihan yang disesuaikan dengan tuntutan pekerjaan.

"SDM tidak bisa hanya diukur dari berapa kelulusan, tapi bagaimana lulusan itu sesuai dengan yang dibutuhkan industri," kata Sim.

Pemerintah dan pelaku usaha diminta memperkuat kolaborasi di sektor pendidikan vokasi dan teknis. Tanpa itu, lulusan berisiko terserap ke sektor lain yang tidak terkait langsung dengan transisi energi.

Green Job Harus Layak dan Inklusif

Sim menekankan bahwa pekerjaan di sektor energi terbarukan tidak boleh sekadar menjadi alternatif. Green job harus memenuhi standar kelayakan yang setara dengan sektor konvensional.

"Green job ini harus jadi pekerjaan yang layak, aman, memiliki standar, memberikan kesempatan untuk berkembang, dan inklusif. Jadi renewable energy harus terbuka bagi generasi muda, laki-laki, perempuan, dan kebutuhan khusus," ujarnya.

Dengan definisi tersebut, industri hijau dituntut membuka akses seluas mungkin bagi berbagai kelompok. Termasuk generasi muda dan penyandang disabilitas yang selama ini kerap terpinggirkan dari pekerjaan teknis.

Dampak ke Industri dan Investor

Kesenjangan keterampilan menjadi sinyal risiko bagi keberlanjutan proyek energi terbarukan skala besar. Investor yang menanam modal di sektor ini perlu memastikan ketersediaan tenaga kerja terampil sebagai bagian dari mitigasi risiko operasional.

Jika tidak segera diatasi, kekurangan SDM bisa memperlambat commissioning proyek, menaikkan biaya tenaga kerja, dan pada akhirnya menggerus target bauran energi nasional. Pelatihan berbasis kebutuhan industri menjadi salah satu jalan keluar yang tengah disiapkan PKET bersama pelaku usaha.

Reporter: Ramli Ahmad
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top