Pencarian

Sejarah dan Budaya Jambi yang Kaya dan Memukau: 7 Destinasi Warisan Leluhur yang Wajib Dikunjungi

Jumat, 03 Juli 2026 • 16:14:31 WIB
Sejarah dan Budaya Jambi yang Kaya dan Memukau: 7 Destinasi Warisan Leluhur yang Wajib Dikunjungi
Kompleks Candi Muaro Jambi menampilkan warisan Hindu-Buddha terbesar di Asia Tenggara.

Di tepian Batanghari, Provinsi Jambi menyimpan kompleks percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara. Candi Muaro Jambi, dengan luas 3.981 hektar, membentang di dua kabupaten—Muaro Jambi dan Kota Jambi. Situs ini bukan sekadar tumpukan batu bata merah. Ia adalah pusat pendidikan agama Buddha abad ke-7 hingga ke-13, tempat pendeta dari China dan India singgah dalam perjalanan ke Sriwijaya.

Namun, kebudayaan Jambi tidak berhenti di reruntuhan candi. Tradisi lisan, tari, dan upacara adat masih dirawat oleh masyarakat di hulu-hulu sungai. Dari Kota Jambi hingga Kerinci, setiap daerah punya cerita yang berbeda. Berikut tujuh titik yang mewakili kekayaan sejarah dan budaya Jambi.

1. Candi Muaro Jambi: Situs Warisan Dunia yang Belum Tersentuh Mass Tourism

Kompleks ini memiliki 110 bangunan candi yang teridentifikasi, namun baru 9 yang dipugar. Candi Tinggi, Candi Gumpung, dan Candi Kedaton adalah yang paling utuh. Di sini, Anda bisa berjalan di atas lantai bata merah asli yang berusia lebih dari seribu tahun.

Lokasi: Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Jarak dari pusat Kota Jambi sekitar 26 kilometer, tempuh 40 menit menggunakan kendaraan roda dua atau empat. Jam buka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB. Tiket masuk Rp5.000 per orang. Tidak ada biaya parkir tambahan.

2. Tari Sekapur Sirih: Sambutan Adat yang Sarat Filosofi

Tari ini bukan sekadar hiburan pembuka acara. Gerakannya melambangkan penghormatan kepada tamu dan roh leluhur. Penari membawa tepak sirih yang berisi pinang, gambir, dan kapur—simbol keharmonisan dan kesuburan. Di Jambi, tarian ini masih diajarkan di sanggar-sanggar tradisional seperti Sanggar Tari Puti Mayang di Kecamatan Pasar Jambi.

Jika ingin menyaksikan langsung, datanglah ke pernikahan adat Melayu Jambi atau acara resmi pemerintah daerah. Biasanya, tarian ditampilkan sebagai pembuka sebelum sambutan.

3. Upacara Tepung Tawar: Ritual Tolak Bala di Hulu Batanghari

Masyarakat di Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, masih rutin menggelar upacara ini setiap awal musim tanam padi. Tepung tawar dibuat dari beras yang ditumbuk halus, dicampur kunyit dan air kapur. Sesepuh adat memercikkannya ke sawah dan perahu nelayan sebagai doa agar terhindar dari bencana.

Upacara berlangsung selama satu hari penuh, biasanya pada bulan September atau Oktober. Tidak ada tiket masuk. Pengunjung cukup membawa buah tangan seperti gula merah atau kopi untuk diberikan kepada tetua adat.

4. Museum Negeri Jambi: Koleksi Prasasti dan Keramik dari Abad ke-14

Di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Jambi, museum ini menyimpan prasasti Batu Gajah dan Arca Buddha perunggu dari abad ke-8. Koleksi keramik dari Dinasti Ming dan Yuan juga dipajang di lantai dua, menunjukkan jejak perdagangan maritim Jambi pada masa lampau. Museum buka Selasa hingga Minggu pukul 08.00–16.00 WIB. Tiket Rp3.000 untuk dewasa, Rp1.000 untuk anak-anak.

Jangan lewatkan replika rumah adat Kajang Lako di halaman belakang. Rumah panggung dengan atap melengkung ini adalah ikon arsitektur Melayu Jambi.

5. Desa Adat Rantau Panjang: Tradisi Tenun Songket yang Tak Pernah Padam

Di Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, perempuan-perempuan desa masih menenun songket dengan alat tradisional. Benang emas dan perak ditenun manual dengan motif pucuk rebung, kapal, dan awan larat. Satu helai kain songket ukuran 2,5 meter bisa selesai dalam 2–3 bulan. Harga jual mulai Rp1,5 juta hingga Rp7 juta tergantung kerumitan motif.

Pengunjung bisa belajar menenun langsung dari perajin. Biaya workshop Rp50.000 per orang, termasuk bahan benang dan makan siang. Waktu terbaik datang adalah pagi hari pukul 09.00–12.00 WIB, saat para perajin paling aktif.

6. Danau Kerinci: Kaldera Vulkanik di Kaki Gunung Raya

Danau seluas 4.200 hektar ini berada di Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci. Airnya hijau kebiruan, dikelilingi perbukitan yang diselimuti kabut. Menurut cerita lisan, danau ini terbentuk dari letusan Gunung Raya ribuan tahun lalu. Masyarakat setempat meyakini danau sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur.

Akses dari Kota Jambi sekitar 6 jam perjalanan darat. Tiket masuk Rp10.000 per orang. Sewa perahu nelayan untuk berkeliling danau Rp150.000 per jam. Jika beruntung, Anda bisa melihat burung kuau raja yang dilindungi di sekitar tepi danau.

7. Masjid Agung Al-Falah: Simbol Akulturasi Arsitektur Melayu dan Timur Tengah

Masjid ini berdiri di pusat Kota Jambi, tepat di persimpangan Jalan Sultan Thaha dan Jalan Jenderal Sudirman. Dibangun tahun 1970, atapnya berbentuk tumpang tiga—khas arsitektur Jawa dan Melayu. Masyarakat setempat menyebutnya "Masjid Seribu Tiang" karena memiliki 1.024 pilar penyangga. Di bulan Ramadhan, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dengan pengajian setiap malam.

Masjid buka 24 jam. Tidak ada biaya masuk. Pengunjung diwajibkan memakai pakaian sopan. Tersedia tempat wudhu dan toilet yang bersih.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa destinasi sejarah paling terkenal di Jambi?
Candi Muaro Jambi adalah destinasi sejarah utama, dengan luas kompleks mencapai 3.981 hektar dan usia lebih dari 1.000 tahun.

Berapa biaya masuk Candi Muaro Jambi?
Tiket masuk Rp5.000 per orang. Tidak ada biaya parkir tambahan untuk kendaraan roda dua maupun empat.

Kapan waktu terbaik mengunjungi Danau Kerinci?
Bulan April hingga Oktober, saat cuaca cerah dan kabut tipis. Hindari Desember–Februari karena curah hujan tinggi.

Di mana bisa membeli songket asli Jambi?
Di Desa Rantau Panjang, Tanjung Jabung Barat, atau di Pasar Angso Duo Kota Jambi. Harga mulai Rp1,5 juta per helai.

Apakah ada ritual adat yang masih rutin dilakukan di Jambi?
Ya, Upacara Tepung Tawar di Sarolangun dan ritual Kenduri Sko di Kerinci masih digelar setiap tahun.

Jambi tidak hanya menawarkan candi dan danau. Setiap sudutnya menyimpan cerita yang ditulis ulang oleh masyarakatnya sendiri. Dari tenunan songket yang dirajut perlahan hingga ritual di tepi sawah, semua berjalan tanpa hiruk-pikuk pariwisata massal. Datanglah dengan waktu yang cukup. Jambi bukan tempat untuk dilihat sekilas, melainkan untuk dirasakan pelan-pelan.

Bagikan

Berita Terkini

Indeks