JAMBI — Bagi penggemar Honda di Indonesia, nama B-Series dan D-Series bukanlah barang baru. Keduanya adalah mesin yang menghidupi generasi Civic, CRX, dan Accord era 80-an hingga 2000-an. Namun, banyak yang masih bertanya: apa sebenarnya pembeda utama keduanya selain kapasitas silinder?
DOHC VTEC untuk Performa, SOHC VTEC untuk Irit
Perbedaan paling fundamental ada pada konfigurasi katup. Semua anggota keluarga B-Series menggunakan Dual Overhead Camshaft (DOHC). Ini berarti Honda B16, B18, hingga B20 memiliki dua poros cam yang mengatur katup masuk dan buang secara independen.
Pada varian VTEC-nya, sistem Variable Valve Timing and Lift Electronic Control bekerja pada kedua sisi katup — baik intake maupun exhaust. Hasilnya, putaran mesin naik tinggi dengan tenaga puncak yang galak. B18C5 dari Civic Type R DC2 misalnya, mampu menyemburkan 195 hp dari kapasitas 1,8 liter.
Sebaliknya, D-Series mayoritas menggunakan Single Overhead Camshaft (SOHC). VTEC pada mesin ini hanya mengubah timing katup intake saja. Konsekuensinya, tenaga maksimal lebih rendah — puncaknya hanya 130 hp dari varian D16. Namun, D-Series unggul di efisiensi berkat teknologi VTEC-E (pada D15B5 dan D16Y5) yang menutup satu katup intake di bawah 2.500 rpm demi irit BBM.
Blok Mesin Lebih Besar, Batang Piston Lebih Kuat
Dari segi dimensi, B-Series jelas lebih jumbo. Kapasitas terkecilnya 1.600 cc (B16), lalu naik ke 1.700 cc (B17), 1.800 cc (B18), dan 2.000 cc (B20). Sementara D-Series paling besar cuma 1.700 cc, dengan yang paling kecil 1.200 cc (D12).
Keunggulan B-Series tidak berhenti di volume silinder. Dari pabrik, kepala silinder B-Series sudah dibekali profil cam yang lebih agresif dan katup intake-exhaust yang lebih besar. Aliran udara masuk ke ruang bakar jauh lebih deras dibanding D-Series.
Yang lebih krusial untuk para tuner: internal B-Series lebih kokoh. Batang piston (connecting rod) lebih tebal dan crankshaft lebih kuat. Inilah alasan mengapa B-Series bisa digeber hingga 500 hp sampai 1.300 hp untuk aplikasi balap ekstrem. D-Series, dengan konstruksi yang lebih ringan dan tipis, tidak didesain untuk menahan beban sebesar itu.
Karakter Torsi: Kejutan dari Mesin Kecil
Meski kalah tenaga puncak, D-Series punya keunggulan yang sering luput dari perhatian. Karena sebagian besar varian D-Series memiliki langkah piston (stroke) yang lebih panjang, mesin ini menghasilkan torsi yang lebih besar sebagai persentase dari tenaga kuda.
Artinya, D-Series terasa lebih "enteng" dan responsif di putaran bawah hingga menengah — cocok untuk penggunaan harian di perkotaan. B-Series, dengan karakter high-revving-nya, baru menunjukkan taringnya setelah putaran mesin melewati 5.000 rpm.
Kesimpulan untuk Pasar Indonesia
Di Indonesia, B-Series identik dengan Civic Nouva (EG6/EG9) dan Civic Sirion (EK4) yang legendaris. Harganya kini meroket karena status kolektor dan potensi modifikasi. D-Series, yang menghidupi Civic LXi (ES) dan beberapa varian City, lebih mudah ditemukan dengan harga terjangkau dan suku cadang yang melimpah.
Pilih B-Series jika Anda mengejar sensasi putaran atas dan tenaga besar untuk balap atau modifikasi berat. Pilih D-Series jika prioritas Anda adalah keandalan, biaya operasional rendah, dan torsi instan untuk harian. Dua keluarga mesin ini membuktikan bahwa Honda punya resep tepat untuk dua segmen pembeli yang sangat berbeda.