JAMBI — Setelah nyaris sepuluh tahun tanpa transaksi penjualan, Field Jambi akhirnya mencatatkan tonggak baru. Pertamina EP Jambi sukses mengomersialkan Lapangan Sengeti yang memiliki cadangan gas sebesar 14,76 BSCF. Volume kontrak penjualan yang disepakati mencapai 13,4 BSCF, dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk ditetapkan sebagai pembeli setelah melalui proses evaluasi yang ketat.
Nilai ekonomi proyek ini cukup signifikan. Secara bruto, penjualan gas diperkirakan mencapai Rp1,6 triliun sepanjang masa kontrak. Angka tersebut akan memberikan kontribusi langsung melalui mekanisme bagi hasil migas, pajak, dan ketentuan fiskal yang berlaku bagi negara dan daerah.
Pilot Project untuk Gas yang Selama Ini Terlantar
General Manager Pertamina Hulu Rokan Zona 1, Mefredi, menyebut komersialisasi Lapangan Sengeti memiliki arti strategis. Selain menghasilkan nilai ekonomi, proyek ini menjadi pilot project pengembangan stranded gas di Field Jambi. “Pengalaman mulai dari pematangan teknis, penyusunan skema rencana komersialisasi, market intelligence, proses pemilihan dan penetapan pembeli, hingga proses pengajuan permohonan Penetapan Alokasi dan Harga Gas kepada Menteri ESDM melalui SKK Migas, diharapkan menjadi pembelajaran penting dalam mempercepat pengembangan potensi gas yang selama ini belum termanfaatkan,” jelasnya.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi referensi bagi percepatan komersialisasi lapangan gas lainnya di Jambi, seperti Sungai Gelam, Puspa, Puspa Asri, Simpang Tuan, hingga Meruap. Saat ini, proses komersialisasi Sungai Gelam tengah menunggu Penetapan Alokasi dan Harga serta izin prinsip tie in. Sementara itu, Puspa dan Puspa Asri sudah diajukan permohonan ke Menteri ESDM, dan Simpang Tuan masih dalam tahap pematangan aspek teknis dan keekonomian.
Efek Dompet untuk Ekonomi Lokal dan Industri Daerah
Dari sisi daerah, proyek Sengeti diharapkan mampu memicu efek domino bagi perekonomian Jambi. Peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja lokal, serta tumbuhnya peluang usaha bagi pelaku UMKM di sekitar wilayah operasi, terutama pada tahap konstruksi maupun operasional, menjadi target utama. Pemerintah daerah juga telah dilibatkan dalam koordinasi terkait perizinan, kesesuaian tata ruang, dan sinkronisasi dengan program pembangunan daerah.
Rahmat Keslani, Senior Manager Commercial Regional 1 PT Pertamina Hulu Rokan, menambahkan bahwa keberhasilan ini membuka peluang pengembangan ekosistem gas di Provinsi Jambi. “Semakin banyak lapangan gas yang berhasil dikomersialkan, semakin besar pula peluang hadirnya industri berbasis gas serta pembangunan infrastruktur energi yang dapat meningkatkan daya saing daerah,” katanya.
Gas Sengeti untuk Industri dan Pembangkit Listrik
Dalam mendukung program swasembada energi nasional, gas dari lapangan Sengeti akan dimanfaatkan oleh PGN untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri dan pembangkit listrik, termasuk di wilayah Batam, serta sektor strategis lainnya. Mefredi menegaskan, monetisasi Sengeti menjadi awal dari strategi jangka panjang Pertamina EP dalam mengembangkan stranded gas di Jambi.
“Monetisasi Lapangan Sengeti tidak hanya menjadi keberhasilan penjualan gas pertama setelah hampir satu dekade di Field Jambi, tetapi juga menjadi fondasi bagi percepatan pengembangan stranded gas lainnya guna meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat ketahanan energi Indonesia,” tutupnya.