BANGKO — Pemerintah Kabupaten Merangin mencatatkan penurunan signifikan angka balita terdampak stunting. Berdasarkan data terbaru per Agustus 2026, jumlahnya tinggal 638 balita, turun dari 1.109 balita pada Juni 2026.
Penurunan ini menjadi bahan evaluasi dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Merangin, Zulhifni, dari Ruang MPC Bappeda pada Kamis (27/8). Rapat berlangsung secara daring dan dihadiri jajaran lintas sektor, termasuk Asisten 1, Kepala Bappeda, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Kadis Ketahanan Pangan, serta perwakilan DPPKB, Dinas Kesehatan, dan DPMD.
Intervensi Difokuskan di Sekitar Dapur MBG
Zulhifni menginstruksikan seluruh dinas terkait untuk menajamkan strategi intervensi gizi di lapangan. Prioritas utama diarahkan pada balita yang tinggal di sekitar lokasi Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Anak-anak terdampak stunting yang berada di sekitar Dapur MBG harus menjadi prioritas utama pemenuhan gizinya. Kita manfaatkan keberadaan fasilitas ini agar dampak intervensinya lebih cepat terasa dan angka stunting di Merangin bisa kita tekan hingga ke level seminimal mungkin," tegas Zulhifni.
Sinergi TPPS Pusat dan Pemkab Merangin
Rapat ini juga menjadi ajang koordinasi antara pemerintah daerah dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pusat. Deputi Edi Cahyono Sugiarto hadir secara virtual untuk mendengarkan paparan capaian serta kendala di lapangan.
Optimalisasi program Dapur MBG diharapkan mempercepat perbaikan gizi balita, terutama di wilayah dengan kasus stunting yang masih tersebar. Dengan pendampingan rutin dari TPPS Pusat, target penurunan angka stunting di seluruh penjuru Kabupaten Merangin diharapkan bisa tercapai.