Pencarian

PETI Diduga Menggerogoti TNKS di Kerinci, Video Ungkap Kerusakan Hutan dan Puluhan Alat Berat

Kamis, 15 Oktober 2026 • 21:55:12 WIB
PETI Diduga Menggerogoti TNKS di Kerinci, Video Ungkap Kerusakan Hutan dan Puluhan Alat Berat

KERINCI – Dugaan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) berskala besar di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, menjadi sorotan setelah sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi hutan dan aliran sungai yang diduga mengalami kerusakan parah akibat aktivitas pertambangan.

Dalam rekaman tersebut, terlihat bentang lahan yang dipenuhi lubang galian, gundukan tanah dan bebatuan, serta aliran sungai berwarna keruh kecokelatan. Vegetasi di sekitar bantaran sungai juga tampak berkurang, memperlihatkan kondisi lingkungan yang memprihatinkan.

Lokasi yang ditampilkan dalam video diklaim berada di wilayah Tanah Ulayat Depati Muaro Langkap, Tamiai, Kerinci, tepatnya di sekitar Gunung Patuah dan Desa Serpih. Namun, lokasi serta status titik aktivitas pertambangan tersebut masih memerlukan verifikasi dari pihak berwenang.

Puluhan Excavator Diduga Beroperasi

Narator dalam video menyebutkan, lokasi tambang tersebut dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari Desa Serpih. Ia juga menggambarkan aktivitas pengerukan sungai yang disebut berlangsung dalam skala besar, dari bagian hulu hingga hilir.

“Ini adalah tambang ilegal terbesar di Provinsi Jambi, letaknya di Taman Nasional Kerinci Seblat. Ini batang sungainya dikeruk entah berapa ratus kilometer dari hulu sampai hilir. Jadi seperti inilah penampakannya,” ujar narator dalam rekaman tersebut.

Dalam dokumentasi lain yang turut disampaikan, terlihat sejumlah alat berat jenis excavator yang diklaim beroperasi di kawasan tersebut. Narator menyebut alat-alat berat itu bekerja secara bergantian setiap pekan.

Jika dugaan tersebut terbukti, aktivitas pengerukan dalam skala besar berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, mulai dari perubahan bentang alam, kerusakan vegetasi, peningkatan sedimentasi, hingga terganggunya kualitas air dan habitat satwa liar.

Meski demikian, skala kerusakan, jumlah alat berat yang beroperasi, serta durasi aktivitas pertambangan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung dan keterangan resmi instansi terkait.

Bukan Sekadar Persoalan Sosial, Ancaman Ekologi Jadi Sorotan

Dalam video itu, pembuat rekaman menilai kerusakan yang terlihat bukan lagi sekadar persoalan sosial, tetapi telah mengarah pada ancaman ekologis.

“Ini bukan lagi untuk impact sosial, ini udah bicara tentang dampak ekologi. Luar biasa sekali, sangat-sangat keserakahan terjadi,” lanjut narator.

Pernyataan tersebut menyoroti kekhawatiran terhadap kondisi kawasan hutan yang memiliki fungsi penting sebagai penyangga ekosistem. Kerusakan daerah aliran sungai dan hilangnya tutupan vegetasi berpotensi memengaruhi kestabilan tanah serta keseimbangan lingkungan di sekitarnya.

Pembuat video juga menyampaikan dugaan adanya pihak-pihak yang melindungi aktivitas pertambangan tersebut. Namun, tudingan mengenai kemungkinan keterlibatan oknum aparat masih sebatas klaim pembuat video dan belum disertai keterangan resmi ataupun bukti yang dapat diverifikasi secara independen.

Karena itu, dugaan tersebut perlu ditelusuri secara objektif oleh aparat penegak hukum agar fakta di lapangan dapat terungkap dan pihak yang terbukti melanggar hukum dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan yang berlaku.

Menunggu Respons Pengelola TNKS dan Aparat Penegak Hukum

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat maupun aparat penegak hukum mengenai lokasi, legalitas aktivitas pertambangan, dan dugaan kerusakan lingkungan yang diperlihatkan dalam video tersebut.

Verifikasi lapangan menjadi penting untuk memastikan apakah titik-titik yang ditampilkan benar berada di dalam kawasan TNKS, mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab, serta menilai dampak lingkungan yang ditimbulkan.

TNKS merupakan kawasan konservasi penting di Sumatera yang menjadi habitat berbagai satwa dilindungi, termasuk Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, dan Badak Sumatera. Kerusakan habitat di kawasan ini dapat menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati.

Aktivitas pertambangan tanpa izin yang dilakukan di dalam kawasan konservasi dapat berhadapan dengan ketentuan hukum terkait pertambangan, kehutanan, dan konservasi sumber daya alam, bergantung pada lokasi serta bentuk pelanggaran yang ditemukan.

Kini, beredarnya video tersebut memunculkan pertanyaan penting: sejauh mana kebenaran dugaan aktivitas PETI di kawasan TNKS, bagaimana pengawasan dilakukan, dan langkah apa yang akan diambil untuk memastikan kawasan konservasi tetap terlindungi?

Publik menantikan penjelasan resmi serta langkah konkret dari instansi terkait untuk mengungkap fakta di lapangan, menghentikan aktivitas ilegal apabila terbukti terjadi, dan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Follow katajambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Terkini

Indeks