MUARO JAMBI — Penanganan kebakaran di perkebunan kelapa sawit masyarakat Desa Gedong Karya masih berlangsung hingga petugas gabungan bersama warga berjibaku di lapangan. Pipa yang digunakan untuk mengalirkan air kerap mati mendadak karena berlumpur, sehingga upaya pemadaman darat berjalan tidak mudah.
Air Sulit Didapat, Pipa Kerap Mati karena Lumpur
Al Haris menyebut keterbatasan sumber air sebagai persoalan utama di lokasi. Pipa penyalur air tidak jarang berhenti bekerja saat lumpur menyumbat aliran.
"Seperti yang kita lihat, pertama, tidak ada air atau air sangat sulit didapat. Kemudian, pipa yang kita gunakan untuk mengalirkan air bisa mati mendadak karena berlumpur," jelas Al Haris di lokasi.
Kondisi itu memaksa petugas bekerja dengan sarana terbatas. Pemadaman di darat tetap menjadi andalan karena jalur udara belum bisa dioptimalkan.
Water Bombing Belum Optimal karena Asap Pekat
Pemadaman lewat udara dengan metode water bombing belum bisa menjangkau titik kebakaran. Asap tebal menutup pandangan dan menyulitkan pesawat mendekat.
"Yang kedua, water bombing tidak bisa ke lokasi karena asap pekat. Kemudian, sulitnya akses bagi petugas dan masyarakat untuk menuju lokasi membantu memadamkan api," sambung Al Haris.
Medan menuju lokasi api juga tidak ramah bagi pergerakan petugas maupun warga. Angin kencang menambah kekhawatiran api meluas ke area perkebunan di sekitarnya.
Dua Alat Berat Bekerja Sejak Beberapa Hari Lalu
Untuk menahan laju api, dua unit alat berat telah beroperasi selama beberapa hari. Keduanya membuat penyekatan di sekitar area kebakaran.
Petugas gabungan, warga, dan sejumlah pemilik kebun masih berada di lokasi. Mereka berupaya mencegah kobaran merambat ke lahan lain di sekitar Desa Gedong Karya.
Peninjauan Gubernur Jambi bersama Danrem 042/Gapu dan Manggala Agni dilakukan pada Minggu siang, 18 Oktober 2026. Hingga peninjauan berlangsung, api belum sepenuhnya padam.