Alih-alih mengumpulkan ratusan anak dalam satu ruangan, Ditlantas memilih pendekatan berkelanjutan. Mereka membekali para guru dengan metode dan materi edukasi lalu lintas yang terintegrasi ke kegiatan belajar sehari-hari. Langkah ini dinilai lebih efektif karena guru berinteraksi langsung dengan anak setiap hari.
“Peran guru sangat penting sebagai agen edukasi dalam membangun karakter disiplin berlalu lintas sejak dini,” ujar Kasi Dikmas Subdit Kamsel Ditlantas Polda Jambi, Kompol Devita Efrina, yang memimpin acara. Ia didampingi personel Polwan Subdit Kamsel.
Lagu, Permainan, dan Simulasi di Kelas
Bimtek bertema “Membangun Karakter Tertib Berlalu Lintas Sejak Usia Dini” ini tidak berhenti pada teori. Para peserta diajarkan menyampaikan aturan lalu lintas dengan bahasa yang mudah dicerna anak-anak, seperti lagu, permainan, dan simulasi sederhana. Tujuannya, nilai disiplin dan keselamatan di jalan tertanam tanpa kesan menggurui.
Program ini merupakan arahan Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H. Siregar dan Dirlantas Polda Jambi Kombes Pol Adi Benny Cahyono. Mereka menilai pendekatan edukatif lebih ampuh menekan angka kecelakaan dibandingkan tindakan represif di lapangan.
Target Besar: Generasi Tertib Lalu Lintas
Ditlantas berharap para guru menjadi perpanjangan tangan kepolisian. Mereka tidak hanya mengajarkan rambu lalu lintas, tetapi membentuk kesadaran akan keselamatan di jalan sejak usia dini.
“Program SALUD diharapkan membentuk generasi yang memiliki budaya tertib berlalu lintas, sehingga mendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di masa mendatang,” demikian pernyataan resmi Ditlantas Polda Jambi. Sinergi antara kepolisian, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan akan terus diperkuat melalui edukasi berkelanjutan.