JAMBI — Kawasan ekosistem esensial (KEE) Pantai Cemara di pesisir timur Jambi bukan sekadar hamparan mangrove dan lumpur. Setiap tahun, pada rentang Agustus hingga April, ribuan burung air dari jalur terbang Asia Timur-Australasia (East Asian-Australasian Flyway/EAAF) singgah di sini untuk mencari makan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ribuan kilometer ke selatan.
Tiga Spesies Terancam Punah Terpantau di Satu Lokasi
Koordinator Coastal Wetland SCS-SAP Project PKSPL IPB University, Eko Budi Priyanto, mengungkapkan hasil pemantauan Tim Kelompok Kerja KEE pada 2025 mencatat tiga jenis burung pantai migran yang masuk daftar merah IUCN dengan status terancam punah. Mereka adalah Trinil nordmann (Tringa guttifer), Gajahan Timur (Numenius madagascariensis), dan Kedidi Besar (Calidris tenuirostris).
“Kami juga mencatat ada tiga jenis burung pantai bermigrasi yang berstatus terancam atau Endangered berdasarkan kriteria daftar merah IUCN,” kata Eko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jambi, Jumat.
Bukan Sekadar Habitat Burung, Tapi Penyangga Kehidupan Warga
Eko menegaskan, kawasan yang kini disebut Area Preservasi Pantai Cemara ini memiliki nilai ekologis yang melampaui fungsi sebagai tempat singgah burung. Ekosistem mangrove dan dataran lumpur di sana berperan sebagai penyangga kehidupan masyarakat pesisir, menjaga pasokan air, mencegah abrasi, serta mengurangi dampak perubahan iklim. Kawasan ini juga menjadi penyangga penting bagi Taman Nasional Berbak Sembilang.
“Karena nilai penting inilah, maka Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelola Ekosistem Esensial Pantai Cemara ditetapkan melalui SK Gubernur Jambi Nomor: 398/Kep.Gub/Dishut-3.3/2019 tanggal 18 Maret 2019 untuk pengelolaan di masa depan,” ucap Eko.
Penilaian Efektivitas Pengelolaan: Alat Ukur Baru untuk Era Iklim Ekstrem
Untuk memastikan kawasan ini tetap sehat, pemerintah bersama akademisi dan lembaga internasional melakukan penilaian menggunakan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) versi 4.4. Pelaksana Tugas Kepala Seksi KSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Yuliana, menjelaskan bahwa versi terbaru METT ini dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan konservasi di tengah perubahan iklim.
“Termasuk di dalamnya penilaian terhadap habitat dan satwa indikator kunci, kompas ekologis yang menunjukkan apakah kawasan masih berada dalam kondisi sehat sebagai tempat singgahnya burung migran,” jelas Yuliana.
Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Keberlanjutan
Kegiatan penilaian yang berlangsung pada 23 dan 25 Juni 2026 itu melibatkan 31 perwakilan dari 22 anggota forum kolaborasi pengelola KEE. Proyek ini merupakan kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), United Nations Office for Project Services (UNOPS), dan PKSPL IPB University dalam implementasi Proyek South China Seas Strategic Action Programme (SCS-SAP). Hasil penilaian akan menjadi dasar rekomendasi teknis dan mekanisme kerja sama antarpihak untuk pengelolaan Pantai Cemara dan kawasan penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang secara berkelanjutan.