Pencarian

Risiko Blackout Mengintai Sistem Kelistrikan RI, Panas Bumi Dinilai Jadi Andalan Baru PLN

Rabu, 08 Juli 2026 • 13:52:31 WIB
Risiko Blackout Mengintai Sistem Kelistrikan RI, Panas Bumi Dinilai Jadi Andalan Baru PLN
Pembangkit listrik tenaga panas bumi dinilai sebagai solusi andalan untuk mengurangi risiko blackout di Indonesia.

JAMBI — Bayangkan lampu padam serentak di seluruh kota, pabrik berhenti berproduksi, dan mesin ATM mati total. Itulah skenario blackout yang kini diwaspadai para pengelola sistem kelistrikan. Feiral Rizky Batubara, Pengamat Energi, mengatakan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik menjadi pemicu utama. Gangguan infrastruktur dan kompleksitas sistem energi yang terus bertambah juga memperbesar risiko.

“Gangguan pada sistem kelistrikan tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat memberikan tekanan terhadap sektor industri,” kata Feiral. Pasokan yang tidak stabil, menurut dia, berpotensi menghambat proses produksi, menaikkan biaya operasional, hingga mengganggu rantai pasok nasional.

Panas Bumi: Pilar Baseload yang Terlupakan

Di tengah kekhawatiran itu, perhatian mulai tertuju pada energi panas bumi. Feiral menilai sumber energi ini memiliki karakter ideal sebagai pembangkit beban dasar (baseload). “Panas bumi bisa beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan karakternya stabil,” ujarnya.

Indonesia memiliki cadangan panas bumi sebesar 24 gigawatt (GW), setara 40 persen cadangan dunia. Namun, pemanfaatannya masih timpang. Baru sekitar 2,7 GW atau 12 persen yang sudah terpasang. Sisanya masih menjadi potensi yang menunggu realisasi.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai pengelola utama ladang panas bumi negara, dituntut untuk mempercepat eksplorasi. Target RUPTL 2025–2034 mencatat kebutuhan tambahan kapasitas hingga 5,2 GW dalam satu dekade ke depan. Angka itu dinilai ambisius, tapi sejalan dengan arah transisi energi nasional.

Hambatan Investasi dan Infrastruktur Jaringan

Meski prospeknya besar, pengembangan panas bumi bukan tanpa ganjalan. Feiral menyoroti tiga hambatan utama: kebutuhan investasi awal yang tinggi, tarif keekonomian yang belum kompetitif, dan proses perizinan yang berbelit. “Diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi hingga penyediaan pembiayaan jangka panjang,” jelasnya.

Tak hanya itu, kesiapan infrastruktur jaringan kelistrikan milik PLN juga menjadi kunci. Pengembangan pembangkit panas bumi harus sinkron dengan penguatan transmisi dan distribusi. Tanpa itu, listrik dari daerah terpencil—tempat ladang panas bumi biasanya berada—tidak akan sampai ke pusat beban.

Feiral menambahkan, mitigasi blackout tidak bisa hanya mengandalkan satu teknologi. “Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” katanya. Panas bumi, menurut dia, layak ditempatkan sebagai salah satu pilar utama dalam portofolio ketahanan listrik nasional.

Indonesia kini berada di persimpangan: antara terus bergantung pada batubara yang murah namun rawan emisi, atau berinvestasi besar-besaran pada panas bumi yang andal namun mahal di awal. Keputusan ada di tangan pemerintah dan direksi PLN serta PGE.

Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks